Belajar Bersyukur dari Keluarga Pemulung

Belajar Bersyukur dari Keluarga Pemulung

Image result for bocah pemulung
ilustrasi

Setiap hari saya lewati tempat yang sama. Di sana saya sering melihat 3 orang anak kecil tidur-tiduran dilantai, di depan pagar pembungkus koperasi dengan beralas Koran. Saya ingin sekali bertanya “dimana orang tua kalian wahai anak kecil?” kenapa kalian sering disini? Gak kepanasan atau berdebu atau berasap dengan lalu lalang kendaraan?” Tapi ah.. saya tidak bisa berbuat apa-apa jika mereka menjawab “ibu kami sedang memulung, kami tidak punya rumah, hanya gerobak dan emperan tempat sandaran kami.” Ya Allah hanya doa yang bisa saya panjatkan kepada mereka. Semoga mereka bisa mempunyai tempat tidur yang lebih baik dan lebih nyaman.

Tapi, kenapa mereka terlihat bahagia? Padahal hati saya tidak terlihat bahagia melihat mereka. Mereka bocah-bocah polos yang mungkin lahir di emperan atau gerobak. Mereka bahkan tidak peduli bahwa sandaran duduk mereka adalah pagar besi dan alas duduk mereka adalah karung. Tidak ada tempat main atau hidup yang layak. Mereka kumuh dan kotor seperti gerobak mereka. Namun ada pancaran kebahagiaan dan rasa syukur disemburat wajah mereka yang lebih dari kegembiraan orang-orag dalam rumah gedongan itu. Saya sampai sekarang belum tau apa pekerjaan ayah dan ibu mereka. Saya hanya melihat mereka berprofesi sebagai pemulung. Ibunya tidak meminta-minta, namun memulung. Bukankan lebih mulia?

Pernah suatu hari saya pulang dari les hari sabtu siang, saya melihat adik perempuan dari 4 orang tersebut sedang terlelap dalam gerobak beralaskan sampah berlapis kardus. Dia tertidur dengan nyenyak seperti tidur beralaskan spring bed dan dalam ruangan ber-AC. Ya Allah, hati saya teriris, ingin saya ajak anak ini tidur dikamar kosan saya, tapi apakah ibu kos saya mengijinin? Sementara adiknya tertidur, tiga orang kakak-beradik lainny, asik bermain, ditemani sebungkus roti coklat. Sepertinya ada orang yang berempati dengan mereka. Mereka sangat bahagia dan bersyukur. Kebahagiaan mereka menghapus semua rasa bahwa mereka hidup di gerobak dan emperan. Sungguh rasa syukur mereka lebih dari siapapun.

Suatu hari, ketika hujan deras turun membasahi Jakarta. Hari agak gelap, kira-kira sekitar jam 7 sore. Saya tidak bisa mengalihkan pikiran saya ke yang lain. Pikiran saya tertuju pada keluarga pemulung tadi. Sekarang mereka berlindung dimana? Bahkan rumah kardus saja mereka tidak punya. Lagi-lagi, saya hanya bisa memanjatkan doa. Besoknya saya mengecek, ternyata mereka baik-baik saja dan bahagia. Alhamdulillah
Saya tidak bisa membayangkan dinginnya malam berhembus hujan. Mereka berhangatkan diri dengan apa? Saya tidak melihat koleksi pakaian atau lemari mereka dengan selimut tebal didalamnya. Simpan dimana selimut mereka?. Apakah anak-anak polos dan ceria itu sempat mengeluh atau menangis dan menanyakan Ma, Pah, kenapa kita hidup disini? kenapa kita tidak punya rumah? Apa yang harus dijawab oleh kedua orang tuanya.

Saya jadi teringat masa kecil saya, ketika musim paceklik tahun 1998. Setiap hari, kami hanya makan ubi dan ubi. Saya sampai menangis dan mengatakan kepada kedua orang tua saya “kenapa setiap hari kita makan seperti ini?” Kapan kita bisa makan beras?”  Ibu saya hanya bisa diam dalam kesedihan. Hal ini dikenang oleh Ibu saya bertahun-tahun, sehingga ketika kami makan ubi, beliau selalu ingat masa-masa itu dan mengulang kembali pertanyaan saya.

Siang ini saya kembali melihat ke empat anak tadpemulung itu  sedang bermain di emperan koperasi bersama Ibunya. Saya perhatikan dengan baik, si anak yang tua harusnya sudah bersekolah, tapi dengan kondisi kehidupan yang demikian, mungkin mereka tidak sanggup. Ada keceriaan yang menghilangkan semua kesusahan dan kegudahan. Mereka seolah-olah hidup normal dan tidak pernah mengeluh. Begitu juga dengan ibu mereka yang tidak menampakan prihatin dan kesedihan. Sepertinya ibunya juga tidak tahu cara menyekolahkan anak-anaknya. Sebuah interpretasi dan nilai rasa syukur yang tinggi yang tampak dari keluarga kecil pemulung ini. Herannya saya, sudah hidup dijalan, mereka punya banyak anak. Seolah-olah tidak ada rasa khawatir membesarkan anak mereka dengan layak. Mungkin Si Ibu tau bahwa setiap anak punya rezekinya sendiri.

Sementara disekitar si keluraga pemulung ini, berdiri rumah-rumah gedongan berpagar tinggi. Hidup mereka sangat kontras dengan kehidupan pemulung ini. Setiap hari mereka dengan berkendaraan melewati anak-anak pemulung yang sedang bermain. Asap kanalpot saja yang diberikan kepada anak-anak ini. Seakan seperti pemandangan biasa saja bagi penghuni kompleks ini. Sehingga tidak ada inisiatif untuk bagaimana membantu orang susah ini, walaupun hanya garasi untuk rumah atau biaya pendidikan anaknya. Padahal mungkin uang jajan anak-anak mereka bahkan lebih besar dari pendapatan si keluarga pemulung tadi. Ya Allah pemandangan yang sangat miris dikehidupan kota Jakarta ini. Orang-orang hidup dengan prinsip loe-loe, gw-gw, sehingga mengabaikan rasa social dan kemanusiaan. Saya bisa mengatakan bahwa gerobak keluarga pemulung ini adalah tembok pembatas antara mereka dan keluarga dalam rumah-rumah gedongan itu, bagaikan kaum borjouis dengan kaum buruh. Setahu saya, yang hidup di komplek tersebut banyak orang alim dan beragama, tapi kenapa masih biasa saja reaksinya terhadap keluarga ini.

Ada beberapa hal yang disampaikan oleh teman saya ketika saya melontarkan pertanyaan mengenai hal ini. Jawabanya adalah Banyak orang susah yang serumpun dengan keluarga ini, jadi jika hari ini ada orang yang memberika fasilitas dan bantuan kepada keluarga ini, datanglah keluarga yang lain dan menyusul yang lain, sehingga menjamurlah keluarga-keluarga baru yang malas dan hanya berharap kasih dari bantuan tersebut. Seperti pengemis yang subur karena sering diberi. Tapi menurut saya prinsip demikian salah. Allah berfirman dan memberi teguran kepada Manusia dalam Q.S Surah Al Ma’un (1-7) :
(1) Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?, (2) Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, (3) Dan tidak mendorong memberi makan orang miskin, (4) Maka celakalah orang yang sholat, (5) (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap sholatnya, (6) yang berbuat Ria, (7) yang enggan (memberikan) bantuan.
Jangan sampai sikap kita mengabaikan ayat ini. Lalu pertanyaannya dimanakah pemimpin (lurah, RT, atau RW) kompleks tersebut? Apakah mereka tidak punya inisiatif sama sekali membantu musafir ini? Bukankah, mereka pemulung itu adalah tetangga kaum borjouis dan elit itu? Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) :

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga yang bukan kerabat, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. An Nisa: 36)

Masya Allah, sesungguhnya ada ancaman dalam ayat diatas bagi kita yang berpikir dan sadar. Hidup begitu penuh dinamika, intrik, dan dosa.

Ada pelajaran yang berharga dan makna dari sebuah kehidupan. Ya, paling tidak dari keluarga pemulung ini saya bisa banyak mengambil ibrah kesabaran dan rasa syukur yang tinggi kepada Allah SWT. Jangan suka mengeluh dengan semua masalah yang datang. Jika engkau belum mampu saat ini, maka lihatlah kebawah, sehingga engkau tetap bersabar dan qonaah. Jika uangkau berkecukupan, lihatlah ke atas, sehingga engkau tidak merasa sombong dan Jumawa. Melihat keluarga pemulung ini, semoga kita bisa meningkatkan rasa empati dan hubungan sosial terhadap sesama manusia, terutama saudara kita seiman. Walaupun kadang banyak juga pemulung jadi-jadian yang ada di Kota Jakarta. (Tulisan lama, 2013)

Advertisements
Aksi 212 dan Upaya Pengembalian Kejayaan Islam

Aksi 212 dan Upaya Pengembalian Kejayaan Islam

212
Aksi 212

Melihat perkembangan umat islam akhir-akhir ini, melalui bangkitnya gerakan islam bersatu dibawah panji gerakan 212 yang dihimpun dan dimulai oleh GNF MUI, sudah sepantasnya kita melihat dan memperhatikan dengan tekad yang bulat mengenai pergerakan yang optimis untuk kebangkitan umat islam di nusantara.

Sebagai salah satu muslimah Indonesia, saya meyakini bahwa mungkin ada maksud baik dari Allah SWT untuk umat islam Indonesia melalui kasus Penghinaan Surat Al-Maidah ayat 51,  yaitu : adanya kemarahan total dari umat islam, memicu bersatunya semua aliansi umat islam, baik ormas, instutsi agama, lembaga non pemerintah maupun seluruh stakeholder islam di masyarakat, terkecuali beberapa umat islam tertentu. Hal ini menjadi nilai berharga dan batu loncatan untuk kemandirian dan persatuan umat islam Indonesia kedepannya. Selanjutnya, dampak dari hal ini adalah timbulnya rasa simpati dan opitimis serta gerakan pemakmuran yang lebih islami untuk sektor eknomi kedepannya, baik pada tingkat mikro maupun makro. Banyak usulan yang diumumkan dan menjadi gagasan penting untuk dieksekusi, seperti : pendirian Bank Syariah 212, pendirian koperasi syariah mulai dari tingkat paling rendah, contohnya koperasi syariah antar pedagang, petani, dan nelayan. Selain itu, adanya gagasan pendirian TV 212 yang befungsi untuk memberikan informasi yang berimbang dan sepadan mengenai dinamika dunia islam.

Dua hal diatas menurut saya pribadi adalah trigger yang sudah harus disadari dan disetujui oleh semua umat islam Indonesia, terutama alumni 212. Jika 7 juta orang yang diklaim sebagai alumni 212, mempercepat dengan kompak dan berkelanjutan mengenai hal ini, titik balik kejayaan umat ini sudah depan mata.

Apa Hubungannya antara Aksi 212 dan Kejayaan Islam

Seperti dikutip dari Islampos.com,  semua negara termasuk Malaysia mengumumkan mega proyek yang akan dicapai pada tahun 2020. Selain itu, National Intelligence Council (NIC) Amerika menurunkan laporan yang berjudul “Mapping The Global Future” (Memetakan Masa Depan Global) yang berupa analisis badan intelejen dari 15 negara, menjelaskan bahwa terdapat empat skenario dunia pada tahun 2020, yaitu :  naiknya Cina dan India ke pentas dunia, Amerika berperan dalam membentuk dan mengorganisasikan perubahan global, akan kembalinya kekhalifahan Islam, dan munculnya lingkaran ketakutan dimana respon agresif terhadap ancaman teroris mengarah pada pelanggaran aturan dan sistem keamanan yang berlaku.

Dalam dunia Islam sendiri diyakini bahwa Allah subhanahu wa Taala akan mengutus para mujaddid (pembaru agama) pada setiap kurun waktu 100 tahun. Jika kehancuran dunia Islam ditandai dengan tumbangnya khilafah Turki Utsmani di tahun 1924, maka 100 tahun kemudian –menurut penanggalan hijriah- akan jatuh di tahun 2020, akan muncul pembaharu agama Islam. Berdasarkan hal ini, sudah saatnya kita tidak berleha-leha, terutama para pemuda. Siapkan pelana dan senjata kita, karena bila kita tidak menyadari dan bergerak lebih cepat, kejahatan yang terorganisir akan menggogoti setiap sendi kehidupan umat bangsa ini. Saya pribadi lebih mengkhawatirkan kondisi Umat ini bukan sekedar buih, tapi lebih tragis lagi dari itu, seperti apa yang disabdakan oleh rasulullah berikut :

Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745

Jangan bangga dengan kuantitas muslim di Indonesia. Karena kuantitas tersebut sebenarnya bukanlah suatu keungulan, sebaliknya kualitas islam dan keimanan setiap individu-lah yang menjadi akan keunggulan dan sebagai penentu  kemana perjuangan ini digerakkan. Ingatlah ibroh dari perang Uhud, yaitu ketika kita terlalu berbangga dengan jumlah yang begitu banyak, jumlah tersebut malah membuat pihak Islam kalah. Oleh karena itu, kaum muslimin di Indonesia mulai memperhatikan kualitas dengan cara berikut :

Pertama, mulai digencarkan sholat subuh berjamaah sebagai langkah awal menapak kejayaan. Para pemuda harus bisa sadar dan mau dengan paksa atau terpaksa melaksanakannya. Karena persatuan umat ini akan kuat dan rapat, serta kemenangan dari Allah akan hadir, bila sholat subuh sama kualitasnya seperti sholat Jumat. Semoga dengan adanya sholat subuh berjamaah, terjalin persatuan dan kesatuan antar semua masyarakat, lembaga dan ormas Islam di Indonesia

Kedua, sudah saatnya setiap individu islam di bumi nusantara ini, kembali menghapal dan mengimplementasikan alquran serta hadist, seperti Rasul dan para sahabat contohkan. Selain itu, perbanyak membaca sejarah kebesaran islam. Kesadaran ini harus dijamaahkan dan disebarluaskan.

Ketiga, penguatan sumber daya manusia yang mumpuni baik dibidang teknologi dan pendidikan, maupun dibidang pertahanan. Para pemuda sudah harus berlatih memanah, berkuda, dan berenang.

Keempat, penguatan ekonomi melalui bisnis kerakyatan berbasis islam. Karena kita sudah mempunyai modal besar, yaitu jumlah penduduk Indonesia yang berkirasar 250 juta jiwa dan 85% adalah islam. Jumlah ini diperhitungkan dalam membangun kekuatan ekonomi Indonesia. Karena negeri ini masih bermayoritas umat Islam, dengan membangun kesadaran ini, cepat atau lambat, dominasi sector ekonomi bisa beralih ketangan islam. Mengapa penguatan ekonomi kerakyatan? Karena seluruh akses sumber bahan baku sebenarnya ada dikalangan menengah kebawah, dan pasar pun terbesar ada di kalangan masyarakat ekonomi menengah kebawah. Sebagaimana diketahui bahwa factor vital dan menjalankan sebuah roda bisnis adalah bahan baku dan pasar. Jadi, umat Islam yang juga adalah pebisnis harus bisa jeli alam hal ini. Cobalah untuk mulai bersatu dalam sector apapun, baik membentuk kelembagaan maupun koorporasi. Karena salah satu yang mematikan para spekulan dan kapitalis serta monopoli adalah kekuatan kelembagaan yang kokoh dan kuat ditingkat penyedia bahan baku.

Semoga Kejayaan Umat dan negara  Ini dapat tercapai. Karena Ingat?

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imran ayat 139)

Wallahu alam

 

Menikmati Sunset Pertama di Bali

Menikmati Sunset Pertama di Bali

p1070259

Sunset atau cahaya matahari tenggelam adalah sebuah peristiwa alam yang terjadi pada sore hari. Selain indah dan unik, peristiwa langka ini sangat mahal dan berharga. Tak heran banyak diantara kita yang harus menghabiskan uang dan waktu untuk memburu peristiwa alam satu ini.

Bagi saya sendiri, menikmati sunset sama dengan menikmati kebesaran Allah atau bertadabur dengan alam semesta. Ah, saya jadi ingat sekilas mengenai sejarah pencarian dan pemaknaan Illahi oleh Nabi Ibrahim AS.

Ketika Nabi Ibrahim merasa galau dengan keyakinan bangsanya yang kala itu menyembah bulan dan matahari serta berhala lainnya, Beliau sering mengasingkan diri kedalam gua dan menyendiri diatas gunung atau bukit sambil merenung.

Suatu hari ketika banyak masyarakat menyembah bintang, Nabi Ibrahim menentang mereka dan mengatkan bahwa Bulan-lah yang patut dijadikan Tuhan dibanding bintang-bintang, karena cahanya lebih besar dan terang. Namun suatu hari, Nabi Ibrahim tidak mendapati bulan di langit dan Beliau kembali berpikir, bulan saja  bisa menghilang dan sama sepertihalnya bintang-bintang kecil, bagaimana mungkin bisa dijadikan sebagai Tuhan?

Pada pagi harinya Nabi Ibrahim menemukan bahwa ternyata ada cahaya yang lebih besar dan kuat dibanding bulan, yaitu Matahari. Kemudian Nabi Ibrahim mulai meyakini bahwa inilah tuhannya, tuhan yang paling terang, tuhan yang paling kuat. Namun, Nabi Ibrahim kembali kecewa. Saat malam datang, matahari telah kembali ke peraduannya. Tuhan tidak mungkin tenggelam, pikir Nabi Ibrahim. 

Nabi Ibrahim AS, merenungi dengan sangat dalam terhadap apa-apa yang beliau lihat dan lalui. Nabi Ibrahim terus berpikir dan merenung tentang sesuatu yang paling kuat, yang paling terang, dan sesuatu yang tidak mungkin tenggelam.  Akhirnya Nabi Ibrahim menyimpulkan bahwa bintang-bintang yang dikaguminya, Bulan dan matahari yang diikutinya, semuanya bisa muncul kemudian menghilang. Tuhan tidak mungkin seperti itu! pasti ada Tuhan yang menjadikan semua itu. Tuhanlah yang memunculkan dan menenggelamkan mereka. Tuhanlah yang menciptakan mereka, alam semesta, termasuk menciptakan dan memberi kehidupan bagi manusia. Akhirnya nabi ibrahim diberikan hidayah dari Allah bahwa yang menjadikan semua itu adalah ALLAH SWT, tiada tuhan selain ALLAH, yang maha pencipta dan maha besar, yang tidak beranak dan tidak pula diperanakan.

Sunset kali ini adalah sunset pertama yang saya nikmati Di Indonesia, tepatnya di Uluwatu, Bali tahun 2015, ketika saya kerja sambil jalan-jalan ke sana. Alhamdulillah, selama ini, melihat sunset adalah hal yang biasa saja bagi saya, terutama selama saya berada di Kampung Halaman saya, Namlea-Pulau Buru. Kebetulan saya tinggal di desa yang berada ditepi teluk Kayeli, dimana matahari tenggelam dibalik gunung dan melintasi samudra Teluk adalah pemandangan biasa setiap sore.

p1070235
Tebing di Uluwatu, Bali

Menurut saya, Uluwatu adalah salah satu tempat terbaik untuk melihat Sunset Di Bali. Karena spot sunset-nya cukup banyak dan terdapat atraksi tari Kecak yang begitu magic dan menghibur. Saya juga senang dengan tebingnya yang luar biasa. Ketika berada di Uluwatu, saya merasa seperti saya sedang berada di Australia atau Tembok China hehe.. Tapi Hati-hati juga jika ke uluwatu, karena banyak Monyetnya.

Sekedar info, biaya masuk ke Uluwatu cukup murah, yaitu cuma Rp.20.000/orang tahun 2015. Saya tidak tahu harga saat ini. Bagi pengunjung yang memakai baju pendek, setelah bayar, jangan lupa untuk mengunakan selendang atau sarung. Karena daerah ini merupakan komplek pura, jadi para pengunjung diharapkan harus berpakaian sopan.

Just Sharing 🙂