Yuk Berkunjung Ke Pantai Jikumarasa, Pulau Buru

Yuk Berkunjung Ke Pantai Jikumarasa, Pulau Buru

Dibalik keterisolirnya sebagai “penjara” tahanan orde baru, Pulau Buru menyimpan “harta” lain yang tak terkira, yaitu pantai-pantai yang memukau dan berpotensi sebagai spot-spot diving, surfing, dan snorkeling. Salah satu pantai yang juga telah menjadi primadona untuk snorkeling adalah Pantai Jikumarasa.

Pantai Jikumarasa terletak di Desa Jikumarasa, Kecamatan Namlea, yaitu sekitar 9-10 Km dari Bibir kota Namlea. Pantai ini dari dulu merupakan tempat favorit wisata masyarakat Pulau Buru. Sebenarnya, kebanyakan pantai yang ada di Pulau Buru mempunyai karakteristik yang sama, yaitu : berpasir halus dan putih bersih. Namun, ada keunikan tersendiri dari Pantai Jikumarasa dibanding pantai-pantai lainnya di Pulau Buru, yaitu terhubung dengan sungai, sehingga kita bisa menikmati pantai dan sungai yang menawan.

namlea
Pantai Jikumarasa Pulau Buru

Disepanjang bibir pantai jikumarasa, tumbuh pohon cemara laut berjejer-jejer hijau sepanjang mata memandang. Nyiur dan bakau terlihat apik dipelataran pantai dan Sungai Bom, sungai yang terhubung dengan pantai Jikumarasa tersebut. Inilah kolaborasi Unik dari Pantai yang selalu saya rindukan untuk di Kunjungi. Selain itu, di belakang Desa Jikumarasa terdapat gunung-gunung yang berjejer hijau. Sehingga kita melihat seolah-olah Pantai Jikumarasa dipagari oleh gunung-gunung hijau tersebut. Ah rasanya seperti ada sepotong Syurga ditepi Pulau.

Konon, menurut cerita masyarakat Namlea, Sungai Bom terbentuk karena hasil ledakan bom tentara Jepang yang diluncurkan dari Pesawat. Waktu itu, bom-bom dijatuhkan untuk membumi hanguskan tentara sekutu pada perang dunia ke Dua. Jika cerita ini benar, maka ada peninggalan sejarah yang tak ternilai dan tidak diketahui bahkan oleh generasi sekarang. Distinasi wisata didaerah ini merupakan distinasi wisata dan history.

Pantai Jikumarasa sangat ramai dikunjungi masyarakat pada week day, terutama pada hari minggu dan juga pada waktu libur. Pengunjung yang datang ke pantai ini, kebanyakan adalah rombongan pelajar dan keluarga yang menghabiskan akhir pekannya. Rata-rata pengunjung berasal dari kota Namlea sendiri. Pengunjung seperti turis asing sangat jarang terlihat. Hal ini karena sampai saat ini, promosi tempat ini belum terlalu masif dan akses ke Pulau Buru masih sulit dan panjang.

Saat ini fasilitas yang tersedia adalah satu kafe dan penginapan, sedangkan fasilitas terbaru adalah permainan banana boot. Dulu permainan air di Pantai Jikumarasa hanyalah ban karet yang berfungsi untuk membantu pengunjung berenang. Selain itu, kadang-kadang pengunjung menyewa perahu nelayan. Itupun jika disediakan masyarakat desa setempat. Untuk fasilitas kafe dan penginapan, tempat-tempat ini jarang diminati oleh pengunjung lokal. Karena selain masih mahal, dari dulu hingga sekarang pengunjung yang datang ke tempat ini hanya sekedar bertamasya dari pagi hingga sore. Bagi masyarakat Namlea (pengunjung), menikmati pantai pada malam hari bukanlah sesuatu yang biasa, sehingga kebanyakan pengunjung tidak pernah menikmati indahnya malam di Pantai Jikumarasa.

Jika pengunjung merasa bosan bermain air laut, pengunjung dapat menikmati sungai dan pemandangan sungai yang menawan. Biasanya sungai ini dipakai untuk membilas diri dari air laut.

TRANSPORTASI

Untuk menuju ke pantai ini, pengunjung bisa menggunakan motor, mobil, atau angkutan umum. Jika menggunakan angkutan umum, tarif pulang perginya yaitu Rp 18.000 per orang, dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Untuk masuk ke tempat ini pengunjung hanya membayar tarif masuk sebesar Rp 5000 per orang dan jika ingin memarkir kendaraan dalam kawasan pantai, pengunjung harus menambah bayaran lagi sebesar Rp 5000 per kendaraan.

Bagi anda wisatawan dari luar Pulau Buru, tentunya untuk ke Pantai Jikumarasa, anda harus datang dulu ke Pulau Buru. Untuk ke Pulau Buru, bisa menggunakan transportasi laut dan udara melalui kota Ambon. Transportasi laut yang dapat digunakan yaitu kapal besar seperti KM. Lambelu atau KM. Mapulu. Namun, kapal-kapal ini biasanya dua minggu sekali baru bisa ke Namlea, karena rute perjalanannya panjang yaitu : Jakarta-Sulawesi-Ambon-Namlea. Biaya transportasi pulang pergi menggunakan kapal-kapal ini untuk rute Ambon- Namlea, yaitu sekitar Rp 180.000 per orang. Waktu perjalanannya selama 5 jam.

Selain kapal besar, bisa juga menggunakan kapal-kapal kecil yang banyak tersedia seperti KM. Elizabet dan lainnya. Tarif pulang pergi sebesar Rp 200.000 per orang. Perjalan yang ditempuh menggunakan kapal kecil ini selama 7 jam. Selain itu, bisa menggunakan alternatif lain yaitu feri, yang setiap hari pasti ada, namun perjalanan yang ditempuh sekitar 8 hingga 9 jam (Ambon-Namlea). Tarif pulang pergi yaitu Rp 150.000 per orang. Perjalan laut ini mungkin sangat lama bagi yang belum terbiasa, sehingga sebaiknya dalam perjalanan laut, perlu membawa obat anti mabuk. Selain itu, bagi yang ingin ke Pulau Buru dengan perjalanan laut, sebaiknya jangan pada bulan Februari, Juli, dan Juni. Karena pada bulan-bulan tersebut gelombang lautnya tinggi, sehingga bisa menggunakan alternatife kedua yaitu melalui jalur udara. Jika menggunakan jalur ini, waktunya hanya 25 menit untuk perjalanan dari kota Ambon ke Namlea. Namun, jika menggunakan transportasi ini, siap-siap untuk merogok kocek sekitar Rp 300.000 sekali jalan. Jadi untuk bolak-balik, biaya yang diperlukan sekitar Rp 600.000. Untuk Penginapan wisatawan bisa menginap di penginapan dengan tarif mulai dari Rp 150.000 per malam.

Info terbaru, pada tahun 2017, insha allah, akan diresmikan bandara Internasional di Pulau Buru. So, bagi anda yang tertarik berkunjung ke Jikumarasa, anda tidak usah khawatir. Karena perjalanannya akan semakin mudah dan langsung dari Jakarta dan Kota-kota besar lainnya.

Bagi anda yang ingin mengunjungi pantai ini, saya sarankan datanglah di pagi hari karena anda akan menikmati indahnya sunrise pagi diatas sungai yang menganga ke laut. Selain itu anda bisa menghirup udara segar yang berhembus dari pohon-pohon cemara laut Pantai Jikumarasa.

Semoga Info Ini bermanfaat 😀

Advertisements
Nikmatnya Sejumput Kopi dan Pisang Epe di Pantai Losari

Nikmatnya Sejumput Kopi dan Pisang Epe di Pantai Losari

Terkisah, suatu hari bocah besar (saya maksudnya hehe), sangat ingin pergi ke kota Makassar dan doanya terkabul, alhamdulillah. Saya pribadi sangat senang, karena salah satu list tempat di Indonesia yang ingin saya datangi adalah Kota Makassar.

Wellcome Makassar!

Travelling kali ini bertujuan untuk melaksanakan event nasional asosiasi kami, yaitu konferensi nasional Minyak Atsiri (KNMA) dan tempat yang dituju adalah Kota Makassar. Kota Makassar adalah salah satu kota terbesar di Indonesia bagian timur. Kota ini telah menjadi kota pelajar dan sekaligus kota yang strategis untuk mempertemukan semua stakeholder atsiri di bumi Indonesia bagian timur. Selain itu, kota yang terkenal dengan “Ayam Jago dari Timur” sebagai pahlawannya ini, mempunyai pantai Losari dan Pisang Epe yang sangat menggoda. Oleh karena itu, untuk menyelenggarakan Event penting kami, dipilihlah Kota Makassar sebagai lokasi dan tuan rumahnya.

Saya tidak akan menceritakan mengenai event diatas, jadi saya ingin fokus terhadap apa yang saya datangi saja ya hehe.  Alhamdulillah, ketika di Makassar, beberapa tempat idola kaum instagram sudah saya kunjungi yaitu: Benteng Roterdam, Pantai Losari dan Masjid Terapung, Mall Panakukkang :D,  warung ikan Bakar dan juga tempat jajanan pisang epe disepanjang garis Losari.

img-20151123-wa0005
Sunset di tengah Tulisan Pantai Losari

Losari Beach adalah nama pantai yang tidak berpasir, yang berada ditepi teluk Makassar. Sebenarnya Pantai Losari ini, dulu, menurut Pemerintah Makassar adalah pantai yang biasa saja. Karena banyak masyarakat yang membuang sampah sembarang dan menyebabkan teluk Makassar kotor, dibuatlah Pantai Losari ini. hmm.. rupanya walaupun sudah dicegah dan diadakan pembersihan oleh pemerintan Kota Makassar, pertama kali datang ke tempat ini, kesan yang muncul dari saya adalah “ Uh Kotor”. Ya, memang Losari sangat kotor pada waktu itu. Ini tidak seperti yang saya lihat di media yang sering saya tonton.Agak kecewa sih. Karena walaupun sudah banyak fasilitas kebersihan dan public yang disediakan oleh pemerintah daerah, tetap saja belum ada perhatian yang sungguh-sungguh dari masyarakat kota Makassar. Kebetulan pada waktu it, ada festival band dan konser music, jadi banyak sampah berserakan. Tapi ya sudahlah.., walaupun air laut masih dipenuhi sampah dan berbau, cahaya matahati tenggelam dan pemandangan masjid terapung dipantai tersebut, serta landscape kota Makassar cukup membangkitkan moodboster.

img-20151126-wa0030

Menikmati pantai losari yang sunsetnya indah, tidak lengkap jika kita tidak menikmati jajanan sepanjang garis Losari.  Jajanan yang khas dari Losari adalah pisang epe dan wedang sarabah. apakah kalian pernah dengar pisang epe sebelumnya? Atau barangkali ditempat kalian, ada juga penganan satu ini yang berbeda nama dan rasa?

download-3
wedang Sarabah
download-2
Pisang Epe

Pisang epe sebenarnya di daerah lain dinamakan sebagai pisang Bakar atau Pisang geprek. Penganan ini berbahan baku pisang khusus, yaitu pisang kepok (nama latinnya saya tidak tahu :D). Yang unik dari penganan ini adalah setelah dibakar diatas bara panas, pisang-nya digeprek atau dipipihkan dan diberikan topping berupa kacang serta pilihan lainnya. Kemudian disiram dengan cairan manis kental yaitu karamel. Saat ini, banyak Inovasi rasa yang berkembang di penjual pisang epe, yaitu : rasa durian, millo, coklat, dan keju. Menurut saya, rasa pisang epe yang yang paling enak dan direkomendasikan adalah pilihan rasa coklat dicampur keju. Karena coklat yang digunakan adalah coklat batangan (dark chocolate), jadi rasannya begitu nikmat. Namun, favorit saya rasa tetap pada rasa orginalnya hehe..

Untuk menemani pisang epe, baiknya kita menyeruput kopi atau wedang sarabah khas Makassar, dan ini cocok di sore hari. Wedang sarabah sendiri adalah minuman tradisional khas Makassar yang terbuat dari coconut milk yang direbus dengan jahe dan gula merah. Walaupun Wedang sarabah enak, bagi saya teman makan pisang epe yang paling cocok ala timur Indonesia adalah secangkir kopi itam hangat. Hmm.. jadi ingat rumah. Kebetulan kopi ditemanin pisang bakar atau goreng, juga adalah salah satu tradisi menikmati santai sore bersama keluarga atau tetangga di kampung kami.

Untuk harga, saya agak lupa ya. Karena saya ke makassar pada November 2015, tepat 1 tahun yang lalu. Jika tidak salah, seporsi ada yang menjualnya seharga Rp.900.000 hingga Rp. 12.000 per buah. Biasanya dalam satu porsi, terdapat tiga  buah pisang dan harganya saya benar-benar lupa hehe..

Ah, walaupun dimarahin habis-habisan dalam evaluasi acara oleh pengurus dan juga dimarahin oleh beberapa peserta, sejumput kopi ditemanin pisang epe panas-panas membuat saya bahagia dan betah lebih lama di pantai matahari tenggelam itu. Tiga hari yang begitu keras dan melelahkan kini terbayar sudah dengan kopi dan Sepotong pisang epe panas-panas di depan Losari Beach Makassar. Nikmat sekali…

Menanti detik-detik mahari tenggelam dan azan Magrib, jangan lupa berselfi dulu, ups 😀

img-20151123-wa0006

Menikmati Sunset Pertama di Bali

Menikmati Sunset Pertama di Bali

p1070259

Sunset atau cahaya matahari tenggelam adalah sebuah peristiwa alam yang terjadi pada sore hari. Selain indah dan unik, peristiwa langka ini sangat mahal dan berharga. Tak heran banyak diantara kita yang harus menghabiskan uang dan waktu untuk memburu peristiwa alam satu ini.

Bagi saya sendiri, menikmati sunset sama dengan menikmati kebesaran Allah atau bertadabur dengan alam semesta. Ah, saya jadi ingat sekilas mengenai sejarah pencarian dan pemaknaan Illahi oleh Nabi Ibrahim AS.

Ketika Nabi Ibrahim merasa galau dengan keyakinan bangsanya yang kala itu menyembah bulan dan matahari serta berhala lainnya, Beliau sering mengasingkan diri kedalam gua dan menyendiri diatas gunung atau bukit sambil merenung.

Suatu hari ketika banyak masyarakat menyembah bintang, Nabi Ibrahim menentang mereka dan mengatkan bahwa Bulan-lah yang patut dijadikan Tuhan dibanding bintang-bintang, karena cahanya lebih besar dan terang. Namun suatu hari, Nabi Ibrahim tidak mendapati bulan di langit dan Beliau kembali berpikir, bulan saja  bisa menghilang dan sama sepertihalnya bintang-bintang kecil, bagaimana mungkin bisa dijadikan sebagai Tuhan?

Pada pagi harinya Nabi Ibrahim menemukan bahwa ternyata ada cahaya yang lebih besar dan kuat dibanding bulan, yaitu Matahari. Kemudian Nabi Ibrahim mulai meyakini bahwa inilah tuhannya, tuhan yang paling terang, tuhan yang paling kuat. Namun, Nabi Ibrahim kembali kecewa. Saat malam datang, matahari telah kembali ke peraduannya. Tuhan tidak mungkin tenggelam, pikir Nabi Ibrahim. 

Nabi Ibrahim AS, merenungi dengan sangat dalam terhadap apa-apa yang beliau lihat dan lalui. Nabi Ibrahim terus berpikir dan merenung tentang sesuatu yang paling kuat, yang paling terang, dan sesuatu yang tidak mungkin tenggelam.  Akhirnya Nabi Ibrahim menyimpulkan bahwa bintang-bintang yang dikaguminya, Bulan dan matahari yang diikutinya, semuanya bisa muncul kemudian menghilang. Tuhan tidak mungkin seperti itu! pasti ada Tuhan yang menjadikan semua itu. Tuhanlah yang memunculkan dan menenggelamkan mereka. Tuhanlah yang menciptakan mereka, alam semesta, termasuk menciptakan dan memberi kehidupan bagi manusia. Akhirnya nabi ibrahim diberikan hidayah dari Allah bahwa yang menjadikan semua itu adalah ALLAH SWT, tiada tuhan selain ALLAH, yang maha pencipta dan maha besar, yang tidak beranak dan tidak pula diperanakan.

Sunset kali ini adalah sunset pertama yang saya nikmati Di Indonesia, tepatnya di Uluwatu, Bali tahun 2015, ketika saya kerja sambil jalan-jalan ke sana. Alhamdulillah, selama ini, melihat sunset adalah hal yang biasa saja bagi saya, terutama selama saya berada di Kampung Halaman saya, Namlea-Pulau Buru. Kebetulan saya tinggal di desa yang berada ditepi teluk Kayeli, dimana matahari tenggelam dibalik gunung dan melintasi samudra Teluk adalah pemandangan biasa setiap sore.

p1070235
Tebing di Uluwatu, Bali

Menurut saya, Uluwatu adalah salah satu tempat terbaik untuk melihat Sunset Di Bali. Karena spot sunset-nya cukup banyak dan terdapat atraksi tari Kecak yang begitu magic dan menghibur. Saya juga senang dengan tebingnya yang luar biasa. Ketika berada di Uluwatu, saya merasa seperti saya sedang berada di Australia atau Tembok China hehe.. Tapi Hati-hati juga jika ke uluwatu, karena banyak Monyetnya.

Sekedar info, biaya masuk ke Uluwatu cukup murah, yaitu cuma Rp.20.000/orang tahun 2015. Saya tidak tahu harga saat ini. Bagi pengunjung yang memakai baju pendek, setelah bayar, jangan lupa untuk mengunakan selendang atau sarung. Karena daerah ini merupakan komplek pura, jadi para pengunjung diharapkan harus berpakaian sopan.

Just Sharing 🙂