Konglomerat Jalanan VS Konglomerat Pemerintahan

Suatu hari dibarisan antrian Indomart paling depan, seorang pengamen tua sedang menukar recehan hasil ngamennya. Karena kami memandanginya agak lama dengan tatapan panjang, beliau agak malu dan tidak berlama-lama. Saya terus memerhatikan, ketika kasir menyerahkan selembar lima puluh ribu dan sepuluh ribu, beliau terima dan langsung pergi. Padahal dikantong buatan yang terlilit dipingganya masih banyak recehan yang belum tertukar. Wow, pengamen yang sukses, ada tiga kantong dan baru satu kantong yang ditukar dan itupun tidak semua receh dikeluarkan.

Sebuah perandaian muncul dibenak saya, misalkan seperti ini :

Andaikan uang yang ditukar tadi adalah hasil 1 kali ngamen. Misalkan 1 kali ngamen dalam waktu 2 jam, Bapak  tersebut mendapatkan uang sebesar Rp.60.000. Jika bapak ini beroperasi 1 hari = 8 jam, maka dalam 1 hari Dia dapat mengumpulkan uang ngamen sebesar : (8/2)x60.000=Rp. 240.000, kita konversi ke 1 bulan. Hitung sesuai jam kerja aktif karyawan : 1 minggu = 5 hari kerja=22 hari kerja/bulan. Jadi jika 1 hari mengamen hasilnya sebesar Rp.240.000, 1 bulan = 22×240.000 = Rp. 5.240.000, Lumayan!.

pemisalan lainnya, Kegiatan ngamen pasti bukan memakan waktu 8 jam/hari, pasti lebih dari itu. Saya sering melihat anak-anak yang mengamen, startnya dari jam 6.30 Pagi. Jika bapak ini beroperasi dari jam 6.00 pagi hingga jam 8 .00 malam dan dihitung sama dengan 14.30 jam. Kita bulatkan saja menjadi 14 jam. Sehingga apabila  selama 14 jam bapak tersebut mengamen, belia dapat memeroleh uang sebesar Rp. 50.000, sehingga dalam satu bulan pengamen tersebut bisa mengantongi : Rp.50.000x7X28 hari= Rp. 9.800.000. DAHSYAT BUKAN?. Pendapatan pengamen ini lebih besar dari pegawai negeri sipil.

Sebuah Ironi bukan main yang banyak tumbuh subur laksana gulma dipematang sawah dan itu sulit untuk dibasmi. Telah berakar seperti Tumor. Kasus Pengamen layaknya pengemis. Ada yang tulus karena butuh, ada juga yang gak tulus dan curang mau menjadi mentereng. Bahkan ada pengemis ratusan juta yang saya sebut sebagai “konglomerat jalanan”. Perbedaan keduanya sangat tipis, hanya terteletak pada metode atau cara dalam menghasilkan uang. Pengamen menghasilkan uang dengan cara menyanyi, sedangkan para peminta-minta menghasilkan uang dang cara duduk diam dalam keadaan “mengenaskan”. Perbedaan lainnya yaitu tidak semua pengamen menjadikan kegiatan ngamen sebagai profesi, contohnya mengamennya mahasiswa untuk mencari dana untuk suatu event.  Sementara, pengemis sering mewariskan profesi ini ke anak cucu.

duh, inilah realita nyata yang tumbuh subur di Indonesia. Faktanya bahkan para “konglomerat jalanan” ini berkorporasi hebat dengan berbagai lingkaran mafia serta mempunyai semacam organisasi kuat yang beraliansi dengan berbagai pihak. Secara terang-terangan banyak yang mendeklarasikan diri sebagai kampung pengemis dan juga organisasi pengemis dan pengamen.
Sah-sah saja menurut lembaga Hak Asasi Manusia, namun secara naluri manusia, sesuatu yang terlalu fokus untuk hal yang kurang pantas, adalah hina dan menjadi momok bagi bangsa Indonesia, yang terkenal sebagai bangsa yang kaya dan makmur. Ini pun menjadi tolak ukur yang tidak pernah selesai dari dulu bahwa negara dan bangsa ini masih belum makmur.

Ada sebuah pertanyaan yang muncul dari benak saya, kenapa semakin diberi malah semakin menjadi-jadi? menjadi malas untuk berusaha? menjadi manja untuk meminta? menjadi tidak mau berubah dan bertukar nasib dengan jalan lain?  Coba kita perhatikan pengamen dan pengemis jalanan, apakah semakin berkurang? sebaliknya, pengamen malah semakin bervarian dengan motif yang bermacam-macam. Mulai dari balita hingga manula, dari lagu yang pop hingga rock, bahkan ada beberapa pengamen yang menyangikan shalawatan dan  lagu yang biasanya dibawakan menjelang magrib dimasjid-masjid di Bogor.  Lirik lagunya seperti ini “ Begitulah kisah sang Rasul yang penuh suka duka, yang penuh suka duka” Astagfirullah.. kemana orang tua dan para ulama ?

Ah, bukankan ini sebuah penyakit? ya, penyakit mental akut yang melilit dari semua segi. Banyak solusi sudah dilakukan dari pemerintah untuk para konglomerat jalanan ini, hinggga pembinaan terberat dijeruji besi, namun hal tersebut tidak menjadi solusi.

Bukankah watak dan mental konglomerat jalanan ini secara tidak sadar, sesungguhnya menunjukan mental bangsa ini yang lagi keropos? konglomerat jalanan adalah buah kemiskinan bangsa ini dari banyak dimensi. Dimensi fisik adalah kemiskinan negara berupa pemerataan ekonominya yang masih timpang. Negara masih belum dapat menyejahterakan orang kategori miskin, sesuai amanah UUD ’45 dalam pasal 34 ”Fakir Miskin dan anak-anak terlantar dipelihara Negara”.

Kemiskinan yang lain adalah kemiskinan non fisik yaitu miskin mental dan agama. Mental yang sepertinya tertanam dibawah alam sadar masyarakat saat ini yaitu konsumtif dan malas mencipta. Jika ada yang mencoba mencipta, dijegal oleh pemerintah, dari mulai hak cipta hingga kelayakan penggunaan. Sebaliknya kebanyakan masyarakat lebih mencintai dan bangga terhadap produk orang lain, apalagi yang berbau kebarat-baratan atau korea-koreaan. Tak heran, banyak kran impor dibuka dibading swasembada sendiri, mulai dari padi, daging, hingga jarum pentul. Bahkan ada yang bersembohyan “Jika bisa impor, ngapain swasembada”.

Kemiskinan metal diatas didukung juga dengan kondisi miskinnya nilai agama dalam masyarakat Indonesia yang nota bene 85% Islam. Padahal dalam agama,  kita diajarkan untuk mempunyai budaya malu, yaitu malu sebagian dari iman. Selain itu, dalam agama diperintahkan untuk bekerja sebagai bentuk ibadah dan meminta-minta adalah sebuah hal yang hina dan ganjarannya adalah berwajah tanpa daging ketika berada di penghisaban kelak.

Konglomerat jalanan sesungguhnya cerminan dari konglomerat dipemerintahan dan konglomerat senayan. mereka yang suka meminta-minta pada konglomerat yang sesungguhnya demi jabatan atau pucuk kepimpinan, sehingga mereka rela jual dan buat apa saja sebagai bentuk balas budi. Tidak saja hutang, bahkan hampir negara ini diserahkan kepada pihak asing dan aseng.

Pajak dan uang rakyat untuk menghidupi mereka tidak menjadi sebuah kepuasan, namun kebuasan. Buas untuk dapat lebih sehingga korupsi, koorporasi, koordinasi dengan berbagai aliansi mereka jalani demi perut dan agar tabungan berisi.

Mungkin tidak semua yang duduk dipemerintahan dan senayan atau yang memegang jabatan begitu. Ah.. tapi yang terlihat demikian. negara ini penuh dengan pesakitan mulai dari yang hidup jalan hingga yang hidup di pemerintahan. Bangga menjadi konglomerat dengan cara apapun.

lantas, apakh kita masih berharap hidup seperti ini terus-menerus?

Hidup tanpa “identitas”, integritas, dan gengsi serta kebanggan diri?

Oh mari rubah semua mental itu, mental koruptif dan pesimist serta komsumtif. Sudah saatnya semua orang berevolusi, bukan saja revolusi mental, tapi revolusi untuk kembali kepada nilai-nilai ilahi dan nilai-nilai ibu pertiwi, yang humanis, penuh semangat juang, percaya diri dan tinggi integritas, berakhlak karimah dan taqwa serta, berdikari.

Belajar Bersyukur dari Keluarga Pemulung

Image result for bocah pemulung

ilustrasi

Setiap hari saya lewati tempat yang sama. Di sana saya sering melihat 3 orang anak kecil tidur-tiduran dilantai, di depan pagar pembungkus koperasi dengan beralas Koran. Saya ingin sekali bertanya “dimana orang tua kalian wahai anak kecil?” kenapa kalian sering disini? Gak kepanasan atau berdebu atau berasap dengan lalu lalang kendaraan?” Tapi ah.. saya tidak bisa berbuat apa-apa jika mereka menjawab “ibu kami sedang memulung, kami tidak punya rumah, hanya gerobak dan emperan tempat sandaran kami.” Ya Allah hanya doa yang bisa saya panjatkan kepada mereka. Semoga mereka bisa mempunyai tempat tidur yang lebih baik dan lebih nyaman.

Tapi, kenapa mereka terlihat bahagia? Padahal hati saya tidak terlihat bahagia melihat mereka. Mereka bocah-bocah polos yang mungkin lahir di emperan atau gerobak. Mereka bahkan tidak peduli bahwa sandaran duduk mereka adalah pagar besi dan alas duduk mereka adalah karung. Tidak ada tempat main atau hidup yang layak. Mereka kumuh dan kotor seperti gerobak mereka. Namun ada pancaran kebahagiaan dan rasa syukur disemburat wajah mereka yang lebih dari kegembiraan orang-orag dalam rumah gedongan itu. Saya sampai sekarang belum tau apa pekerjaan ayah dan ibu mereka. Saya hanya melihat mereka berprofesi sebagai pemulung. Ibunya tidak meminta-minta, namun memulung. Bukankan lebih mulia?

Pernah suatu hari saya pulang dari les hari sabtu siang, saya melihat adik perempuan dari 4 orang tersebut sedang terlelap dalam gerobak beralaskan sampah berlapis kardus. Dia tertidur dengan nyenyak seperti tidur beralaskan spring bed dan dalam ruangan ber-AC. Ya Allah, hati saya teriris, ingin saya ajak anak ini tidur dikamar kosan saya, tapi apakah ibu kos saya mengijinin? Sementara adiknya tertidur, tiga orang kakak-beradik lainny, asik bermain, ditemani sebungkus roti coklat. Sepertinya ada orang yang berempati dengan mereka. Mereka sangat bahagia dan bersyukur. Kebahagiaan mereka menghapus semua rasa bahwa mereka hidup di gerobak dan emperan. Sungguh rasa syukur mereka lebih dari siapapun.

Suatu hari, ketika hujan deras turun membasahi Jakarta. Hari agak gelap, kira-kira sekitar jam 7 sore. Saya tidak bisa mengalihkan pikiran saya ke yang lain. Pikiran saya tertuju pada keluarga pemulung tadi. Sekarang mereka berlindung dimana? Bahkan rumah kardus saja mereka tidak punya. Lagi-lagi, saya hanya bisa memanjatkan doa. Besoknya saya mengecek, ternyata mereka baik-baik saja dan bahagia. Alhamdulillah
Saya tidak bisa membayangkan dinginnya malam berhembus hujan. Mereka berhangatkan diri dengan apa? Saya tidak melihat koleksi pakaian atau lemari mereka dengan selimut tebal didalamnya. Simpan dimana selimut mereka?. Apakah anak-anak polos dan ceria itu sempat mengeluh atau menangis dan menanyakan Ma, Pah, kenapa kita hidup disini? kenapa kita tidak punya rumah? Apa yang harus dijawab oleh kedua orang tuanya.

Saya jadi teringat masa kecil saya, ketika musim paceklik tahun 1998. Setiap hari, kami hanya makan ubi dan ubi. Saya sampai menangis dan mengatakan kepada kedua orang tua saya “kenapa setiap hari kita makan seperti ini?” Kapan kita bisa makan beras?”  Ibu saya hanya bisa diam dalam kesedihan. Hal ini dikenang oleh Ibu saya bertahun-tahun, sehingga ketika kami makan ubi, beliau selalu ingat masa-masa itu dan mengulang kembali pertanyaan saya.

Siang ini saya kembali melihat ke empat anak tadpemulung itu  sedang bermain di emperan koperasi bersama Ibunya. Saya perhatikan dengan baik, si anak yang tua harusnya sudah bersekolah, tapi dengan kondisi kehidupan yang demikian, mungkin mereka tidak sanggup. Ada keceriaan yang menghilangkan semua kesusahan dan kegudahan. Mereka seolah-olah hidup normal dan tidak pernah mengeluh. Begitu juga dengan ibu mereka yang tidak menampakan prihatin dan kesedihan. Sepertinya ibunya juga tidak tahu cara menyekolahkan anak-anaknya. Sebuah interpretasi dan nilai rasa syukur yang tinggi yang tampak dari keluarga kecil pemulung ini. Herannya saya, sudah hidup dijalan, mereka punya banyak anak. Seolah-olah tidak ada rasa khawatir membesarkan anak mereka dengan layak. Mungkin Si Ibu tau bahwa setiap anak punya rezekinya sendiri.

Sementara disekitar si keluraga pemulung ini, berdiri rumah-rumah gedongan berpagar tinggi. Hidup mereka sangat kontras dengan kehidupan pemulung ini. Setiap hari mereka dengan berkendaraan melewati anak-anak pemulung yang sedang bermain. Asap kanalpot saja yang diberikan kepada anak-anak ini. Seakan seperti pemandangan biasa saja bagi penghuni kompleks ini. Sehingga tidak ada inisiatif untuk bagaimana membantu orang susah ini, walaupun hanya garasi untuk rumah atau biaya pendidikan anaknya. Padahal mungkin uang jajan anak-anak mereka bahkan lebih besar dari pendapatan si keluarga pemulung tadi. Ya Allah pemandangan yang sangat miris dikehidupan kota Jakarta ini. Orang-orang hidup dengan prinsip loe-loe, gw-gw, sehingga mengabaikan rasa social dan kemanusiaan. Saya bisa mengatakan bahwa gerobak keluarga pemulung ini adalah tembok pembatas antara mereka dan keluarga dalam rumah-rumah gedongan itu, bagaikan kaum borjouis dengan kaum buruh. Setahu saya, yang hidup di komplek tersebut banyak orang alim dan beragama, tapi kenapa masih biasa saja reaksinya terhadap keluarga ini.

Ada beberapa hal yang disampaikan oleh teman saya ketika saya melontarkan pertanyaan mengenai hal ini. Jawabanya adalah Banyak orang susah yang serumpun dengan keluarga ini, jadi jika hari ini ada orang yang memberika fasilitas dan bantuan kepada keluarga ini, datanglah keluarga yang lain dan menyusul yang lain, sehingga menjamurlah keluarga-keluarga baru yang malas dan hanya berharap kasih dari bantuan tersebut. Seperti pengemis yang subur karena sering diberi. Tapi menurut saya prinsip demikian salah. Allah berfirman dan memberi teguran kepada Manusia dalam Q.S Surah Al Ma’un (1-7) :
(1) Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?, (2) Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, (3) Dan tidak mendorong memberi makan orang miskin, (4) Maka celakalah orang yang sholat, (5) (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap sholatnya, (6) yang berbuat Ria, (7) yang enggan (memberikan) bantuan.
Jangan sampai sikap kita mengabaikan ayat ini. Lalu pertanyaannya dimanakah pemimpin (lurah, RT, atau RW) kompleks tersebut? Apakah mereka tidak punya inisiatif sama sekali membantu musafir ini? Bukankah, mereka pemulung itu adalah tetangga kaum borjouis dan elit itu? Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) :

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga yang bukan kerabat, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. An Nisa: 36)

Masya Allah, sesungguhnya ada ancaman dalam ayat diatas bagi kita yang berpikir dan sadar. Hidup begitu penuh dinamika, intrik, dan dosa.

Ada pelajaran yang berharga dan makna dari sebuah kehidupan. Ya, paling tidak dari keluarga pemulung ini saya bisa banyak mengambil ibrah kesabaran dan rasa syukur yang tinggi kepada Allah SWT. Jangan suka mengeluh dengan semua masalah yang datang. Jika engkau belum mampu saat ini, maka lihatlah kebawah, sehingga engkau tetap bersabar dan qonaah. Jika uangkau berkecukupan, lihatlah ke atas, sehingga engkau tidak merasa sombong dan Jumawa. Melihat keluarga pemulung ini, semoga kita bisa meningkatkan rasa empati dan hubungan sosial terhadap sesama manusia, terutama saudara kita seiman. Walaupun kadang banyak juga pemulung jadi-jadian yang ada di Kota Jakarta. (Tulisan lama, 2013)

Hal Positif Yang Saya Dapatkan dari Masyarakat Sibang Kaja, Bali

Bali begitu unik dan berbudaya. Ketika berkunjung ke Bali pada Juni 2015 silam, banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan. yuk ah.. curhat dikit 😀

Sebenarnya tempat yang saya datangi ini tidak terlalu familiar dimata turis dunia atau Indonesia. Selain itu, ternyata tempat tersebut juga juga tidak terlalu menarik. Namun ada beberapa hal positif yang ingin saya sampaikan buat pembaca sekalian mengenai sisi lain dari masyarakat Bali, yang mungkin belum diketahui oleh para pembaca sekalian.

Juni 2015 silam, dalam rangka training aromatherapy, saya dan tim diundang untuk memberikan pelatihan ke desa Sibang Kaja, Abiansemal, Kabupaten Badung, salah satu desa penghasil bunga di Bali.

p1060969

Mengelilingi Desa Sibang Kaja, Bali

Bagi saya pribadi, pengalaman berhubungan dengan masyarakat Bali dan melihat keseharian mereka lebih dekat, belum pernah saya rasakan sebelumnya. Walaupun, sebenarnya ketika kuliah dulu, saya memiliki beberapa teman warga Hindu Bali di kelas. Alhamdulillah kali ini saya bisa berinteraksi lebih dekat dengan masyarakat Bali dan melihat langsung budayanya. Dari melihat dan mengamati langsung adat dan budaya masyarakat Bali, saya mendapat ibrah sederhana dan hal positif yang bisa kita petik.

Continue reading

Aksi 212 dan Upaya Pengembalian Kejayaan Islam

212

Aksi 212

Melihat perkembangan umat islam akhir-akhir ini, melalui bangkitnya gerakan islam bersatu dibawah panji gerakan 212 yang dihimpun dan dimulai oleh GNF MUI, sudah sepantasnya kita melihat dan memperhatikan dengan tekad yang bulat mengenai pergerakan yang optimis untuk kebangkitan umat islam di nusantara.

Sebagai salah satu muslimah Indonesia, saya meyakini bahwa mungkin ada maksud baik dari Allah SWT untuk umat islam Indonesia melalui kasus Penghinaan Surat Al-Maidah ayat 51,  yaitu : adanya kemarahan total dari umat islam, memicu bersatunya semua aliansi umat islam, baik ormas, instutsi agama, lembaga non pemerintah maupun seluruh stakeholder islam di masyarakat, terkecuali beberapa umat islam tertentu. Hal ini menjadi nilai berharga dan batu loncatan untuk kemandirian dan persatuan umat islam Indonesia kedepannya. Selanjutnya, dampak dari hal ini adalah timbulnya rasa simpati dan opitimis serta gerakan pemakmuran yang lebih islami untuk sektor eknomi kedepannya, baik pada tingkat mikro maupun makro. Banyak usulan yang diumumkan dan menjadi gagasan penting untuk dieksekusi, seperti : pendirian Bank Syariah 212, pendirian koperasi syariah mulai dari tingkat paling rendah, contohnya koperasi syariah antar pedagang, petani, dan nelayan. Selain itu, adanya gagasan pendirian TV 212 yang befungsi untuk memberikan informasi yang berimbang dan sepadan mengenai dinamika dunia islam.

Dua hal diatas menurut saya pribadi adalah trigger yang sudah harus disadari dan disetujui oleh semua umat islam Indonesia, terutama alumni 212. Jika 7 juta orang yang diklaim sebagai alumni 212, mempercepat dengan kompak dan berkelanjutan mengenai hal ini, titik balik kejayaan umat ini sudah depan mata.

Apa Hubungannya antara Aksi 212 dan Kejayaan Islam

Seperti dikutip dari Islampos.com,  semua negara termasuk Malaysia mengumumkan mega proyek yang akan dicapai pada tahun 2020. Selain itu, National Intelligence Council (NIC) Amerika menurunkan laporan yang berjudul “Mapping The Global Future” (Memetakan Masa Depan Global) yang berupa analisis badan intelejen dari 15 negara, menjelaskan bahwa terdapat empat skenario dunia pada tahun 2020, yaitu :  naiknya Cina dan India ke pentas dunia, Amerika berperan dalam membentuk dan mengorganisasikan perubahan global, akan kembalinya kekhalifahan Islam, dan munculnya lingkaran ketakutan dimana respon agresif terhadap ancaman teroris mengarah pada pelanggaran aturan dan sistem keamanan yang berlaku.

Dalam dunia Islam sendiri diyakini bahwa Allah subhanahu wa Taala akan mengutus para mujaddid (pembaru agama) pada setiap kurun waktu 100 tahun. Jika kehancuran dunia Islam ditandai dengan tumbangnya khilafah Turki Utsmani di tahun 1924, maka 100 tahun kemudian –menurut penanggalan hijriah- akan jatuh di tahun 2020, akan muncul pembaharu agama Islam. Berdasarkan hal ini, sudah saatnya kita tidak berleha-leha, terutama para pemuda. Siapkan pelana dan senjata kita, karena bila kita tidak menyadari dan bergerak lebih cepat, kejahatan yang terorganisir akan menggogoti setiap sendi kehidupan umat bangsa ini. Saya pribadi lebih mengkhawatirkan kondisi Umat ini bukan sekedar buih, tapi lebih tragis lagi dari itu, seperti apa yang disabdakan oleh rasulullah berikut :

Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745

Jangan bangga dengan kuantitas muslim di Indonesia. Karena kuantitas tersebut sebenarnya bukanlah suatu keungulan, sebaliknya kualitas islam dan keimanan setiap individu-lah yang menjadi akan keunggulan dan sebagai penentu  kemana perjuangan ini digerakkan. Ingatlah ibroh dari perang Uhud, yaitu ketika kita terlalu berbangga dengan jumlah yang begitu banyak, jumlah tersebut malah membuat pihak Islam kalah. Oleh karena itu, kaum muslimin di Indonesia mulai memperhatikan kualitas dengan cara berikut :

Pertama, mulai digencarkan sholat subuh berjamaah sebagai langkah awal menapak kejayaan. Para pemuda harus bisa sadar dan mau dengan paksa atau terpaksa melaksanakannya. Karena persatuan umat ini akan kuat dan rapat, serta kemenangan dari Allah akan hadir, bila sholat subuh sama kualitasnya seperti sholat Jumat. Semoga dengan adanya sholat subuh berjamaah, terjalin persatuan dan kesatuan antar semua masyarakat, lembaga dan ormas Islam di Indonesia

Kedua, sudah saatnya setiap individu islam di bumi nusantara ini, kembali menghapal dan mengimplementasikan alquran serta hadist, seperti Rasul dan para sahabat contohkan. Selain itu, perbanyak membaca sejarah kebesaran islam. Kesadaran ini harus dijamaahkan dan disebarluaskan.

Ketiga, penguatan sumber daya manusia yang mumpuni baik dibidang teknologi dan pendidikan, maupun dibidang pertahanan. Para pemuda sudah harus berlatih memanah, berkuda, dan berenang.

Keempat, penguatan ekonomi melalui bisnis kerakyatan berbasis islam. Karena kita sudah mempunyai modal besar, yaitu jumlah penduduk Indonesia yang berkirasar 250 juta jiwa dan 85% adalah islam. Jumlah ini diperhitungkan dalam membangun kekuatan ekonomi Indonesia. Karena negeri ini masih bermayoritas umat Islam, dengan membangun kesadaran ini, cepat atau lambat, dominasi sector ekonomi bisa beralih ketangan islam. Mengapa penguatan ekonomi kerakyatan? Karena seluruh akses sumber bahan baku sebenarnya ada dikalangan menengah kebawah, dan pasar pun terbesar ada di kalangan masyarakat ekonomi menengah kebawah. Sebagaimana diketahui bahwa factor vital dan menjalankan sebuah roda bisnis adalah bahan baku dan pasar. Jadi, umat Islam yang juga adalah pebisnis harus bisa jeli alam hal ini. Cobalah untuk mulai bersatu dalam sector apapun, baik membentuk kelembagaan maupun koorporasi. Karena salah satu yang mematikan para spekulan dan kapitalis serta monopoli adalah kekuatan kelembagaan yang kokoh dan kuat ditingkat penyedia bahan baku.

Semoga Kejayaan Umat dan negara  Ini dapat tercapai. Karena Ingat?

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imran ayat 139)

Wallahu alam

 

Menikmati Sunset Pertama di Bali

p1070259

Sunset atau cahaya matahari tenggelam adalah sebuah peristiwa alam yang terjadi pada sore hari. Selain indah dan unik, peristiwa langka ini sangat mahal dan berharga. Tak heran banyak diantara kita yang harus menghabiskan uang dan waktu untuk memburu peristiwa alam satu ini.

Bagi saya sendiri, menikmati sunset sama dengan menikmati kebesaran Allah atau bertadabur dengan alam semesta. Ah, saya jadi ingat sekilas mengenai sejarah pencarian dan pemaknaan Illahi oleh Nabi Ibrahim AS.

Ketika Nabi Ibrahim merasa galau dengan keyakinan bangsanya yang kala itu menyembah bulan dan matahari serta berhala lainnya, Beliau sering mengasingkan diri kedalam gua dan menyendiri diatas gunung atau bukit sambil merenung.

Suatu hari ketika banyak masyarakat menyembah bintang, Nabi Ibrahim menentang mereka dan mengatkan bahwa Bulan-lah yang patut dijadikan Tuhan dibanding bintang-bintang, karena cahanya lebih besar dan terang. Namun suatu hari, Nabi Ibrahim tidak mendapati bulan di langit dan Beliau kembali berpikir, bulan saja  bisa menghilang dan sama sepertihalnya bintang-bintang kecil, bagaimana mungkin bisa dijadikan sebagai Tuhan?

Pada pagi harinya Nabi Ibrahim menemukan bahwa ternyata ada cahaya yang lebih besar dan kuat dibanding bulan, yaitu Matahari. Kemudian Nabi Ibrahim mulai meyakini bahwa inilah tuhannya, tuhan yang paling terang, tuhan yang paling kuat. Namun, Nabi Ibrahim kembali kecewa. Saat malam datang, matahari telah kembali ke peraduannya. Tuhan tidak mungkin tenggelam, pikir Nabi Ibrahim. 

Nabi Ibrahim AS, merenungi dengan sangat dalam terhadap apa-apa yang beliau lihat dan lalui. Nabi Ibrahim terus berpikir dan merenung tentang sesuatu yang paling kuat, yang paling terang, dan sesuatu yang tidak mungkin tenggelam.  Akhirnya Nabi Ibrahim menyimpulkan bahwa bintang-bintang yang dikaguminya, Bulan dan matahari yang diikutinya, semuanya bisa muncul kemudian menghilang. Tuhan tidak mungkin seperti itu! pasti ada Tuhan yang menjadikan semua itu. Tuhanlah yang memunculkan dan menenggelamkan mereka. Tuhanlah yang menciptakan mereka, alam semesta, termasuk menciptakan dan memberi kehidupan bagi manusia. Akhirnya nabi ibrahim diberikan hidayah dari Allah bahwa yang menjadikan semua itu adalah ALLAH SWT, tiada tuhan selain ALLAH, yang maha pencipta dan maha besar, yang tidak beranak dan tidak pula diperanakan.

Sunset kali ini adalah sunset pertama yang saya nikmati Di Indonesia, tepatnya di Uluwatu, Bali tahun 2015, ketika saya kerja sambil jalan-jalan ke sana. Alhamdulillah, selama ini, melihat sunset adalah hal yang biasa saja bagi saya, terutama selama saya berada di Kampung Halaman saya, Namlea-Pulau Buru. Kebetulan saya tinggal di desa yang berada ditepi teluk Kayeli, dimana matahari tenggelam dibalik gunung dan melintasi samudra Teluk adalah pemandangan biasa setiap sore.

p1070235

Tebing di Uluwatu, Bali

Menurut saya, Uluwatu adalah salah satu tempat terbaik untuk melihat Sunset Di Bali. Karena spot sunset-nya cukup banyak dan terdapat atraksi tari Kecak yang begitu magic dan menghibur. Saya juga senang dengan tebingnya yang luar biasa. Ketika berada di Uluwatu, saya merasa seperti saya sedang berada di Australia atau Tembok China hehe.. Tapi Hati-hati juga jika ke uluwatu, karena banyak Monyetnya.

Sekedar info, biaya masuk ke Uluwatu cukup murah, yaitu cuma Rp.20.000/orang tahun 2015. Saya tidak tahu harga saat ini. Bagi pengunjung yang memakai baju pendek, setelah bayar, jangan lupa untuk mengunakan selendang atau sarung. Karena daerah ini merupakan komplek pura, jadi para pengunjung diharapkan harus berpakaian sopan.

Just Sharing 🙂