Dan Cobaan itu adalah Rahmat Allah Untuk Saya

Dan Cobaan itu adalah Rahmat Allah Untuk Saya

Selama hidup dan besar di rantau, baru kali ini saya mengalami kehilangan barang berharga, tepatnya HP saya. Walaupun HP saya bukan termasuk HP yang mahal, namun bagi saya, HP ini adalah gumpalan bulir-bulir keringat saya yang jatuh selama 7 hari di sulawesi tenggara. agak lebay sih, Tapi benar, dari lubuk hati saya terdalam, hp ini sangat berarti, seberarti mata pelajaran yang saya berikan saat training kepada beberapa penyuling nilam di Sulawesi Tenggara.

Ceritanya, disuatu kegiatan penting yang saya hadiri, dalam kunjungan ke NET TV untuk mengikuti acara mini seminar bersama Bapak Wisnu Tama (CEO NET MEDIA), HP saya hilang. Saya sendiri hingga hari ini belum tau dan gak ngerti, apa yang menyebabkan HP saya hilang. Apakah saya lupa di kamar mandi? Musholah? atau Toilet?. Sungguh, saya benar-benar lupa.
Selama kehilangan HP, saya hanya bisa menenangkan diri dan berkata dalam hati ” jika itu milik saya dan allah ridho, insya allah pasti kembali, tapi jika itu bukan milik saya, saya hanya bisa bertawakal kepada allah. Innalilahi, segala sesuatu pasti kembali kepada Allah.

Sedih, mungkin bukan karena kehilangan HP, tapi karena saya harus kehilangan banyak kontak penting, termasuk kontak beberapa pelanggang tetap saya di bisnis online dan terutama kontak keluarga saya, yang tak satu pun saya simpan dan ingat. Ditambah lagi kamis malam kaka saya balik ke kampung dan saya belum menanyakan kabar dia saat itu. Saya kehilangan HP di hari rabu dan pada Kamis malam kaka saya pulang. Pada kondisi yang sama, selama kegiatan kami tidak diperbolehkan mengaktifkan HP dari jam 5 pagi hingga jam 10 malam.

Sebelum kehilangan HP saya, pada hari selasa, mantan bos saya menghubungi saya lewat WA, bahwa rekan kerja kami yang sudah tiga tahun tidak kontak dengan saya ,ingin memberikan sejumlah uang (sedekah), sebesar Rp. 1.500.000. Entah apa? gak ada hujan atau angin. Subhanallah, saya sudah lama kehilangan kontak dan tidak sama sekali berhubungan atau melakukan kerja sama dengan Beliau. Awalnya saya tolak dan tanyak kembali kepada bos saya, pantaskah saya menerima sumbangan tersebut? Tapi akhirnya saya merasa tidak enak, karena takutnya bos saya ini menganggap saya belagu, atau tidak sopan menolak tawaran sedekah dari orang lain.

Selasa malam, saya memberikan konfirmasi nomor rekening saya kepada Bos saya tersebutnya dan tanpa hal ikhwal apapun, besoknya HP saya hilang. Demi Allah, saya benar-benar gak punya uang sama sekali, kecuali uang Pinjaman dari teman yang harus saya kembalikan. Sementara setelah selesai kegiatan, saya tetap harus update informasi penting dan terutama informasi seputar kuliah.

20170930_094932

Allah maha baik, ketika allah hendak menguji saya dengan kehilangan HP, allah sudah siapkan penggantinya terlebih dahulu. Walaupun tidak seberapa dimata manusia.

Uang yang dikirim langsung saya beli HP Samsung J2. Walaupun HP saya sebelumnya lebih mahal dibanding HP saat ini, saya pribadi sangat bersyukur. Karena akhirnya setelah saya hubungi kolega yang memberikan saya uang tersebut, beliau berencana akan datang kembali ke Indonesia bersama keluarganya. Alhamdulillah juga, beliau memanggil saya nak. Kata kolega ini, “saya menganggap kamu seperti anak saya sendiri”. Kebetulan anak perempuannya juga berusia sama seperti saya.

Inysa allah ketika Beliau dan keluarga datang, beliau akan kenalkan saya dengan anak dan istrinya. Sekali lagi, jika ada orang asing yang menganggap kita adalah anaknya, bukankah itu rahmat?

Maha suci allah, tidak ada ujian melainkan didalamnya adalah rahmat allah. dan rahmat terbesar itu adalah rahmat kasih sayang dari allah melalui tiap mahkluknya. Dan saya merasakan bahagia dengan rahmat ini dan semoga saya termasuk orang-orang beryukur kepada allah.

 

Advertisements
Pengamen Pasar Minggu, Gilak Tajirnya!

Pengamen Pasar Minggu, Gilak Tajirnya!

Ini cerita saya mengenai operasi tangkap tangan (oot) pada pengamen ibu kota Jakarta. Cie.. kayak polisi saja😛.

Tapi sumpah, beneran loh. Ini sudah kali ke dua saya temui pengamen tajir yang beroperasi di wilayah Pasar Minggu dan sekitarnya.

Bukan bermaksud membuka aib orang, tapi dengan tulisan ini saya berharap kita lebih bijaksana dalam memberi sedekah atau santunan kepada orang lain, khususnya kepada mereka yang suka meminta-minta atau mengamen.

Kamis, 23 februari 2017. Saya bersama kakak saya sedang nokrong di dalam ruangan Circle-K Pejaten Barat, Pasar Minggu, dekat rumah sakit siaga raya, atau dekat Universitas Nasional Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Tiba-tiba ada seorang ibu dengan pakaian lusuh membawa karoke (tape kecil) dan duduk di lantai. Ibu ini kemudian meletakkan goody bag orange yang penuh dengan seabrek uang pecahan Rp. 2000, 1000 dan lainya ke lantai. Matanya nengok kiri-kanan, seakan-akan takut jangan sampai dilihatin orang. Kebetulan dipojok kanan Circle-K (area bebas rokok), sedang ramai dengan orang-orang yang lagi nongkrong. Tapi kok beliau gak sadar, jika beliau duduk didepan kami yang hanya dihalang oleh dinding kaca.

img_20170223_141739

Saya lihat jam di HP, hmm.. ini baru jam 14.33. Gilak! “duitnya banyak bangat”. Kakak saya memandangi saya sambil ketawa ” tuh dia gak sadar kita bisa lihat dia. ayo fotoin biar jadi bukti”😅

Eh.. saya fotoin  aja😅

Begonya kenapa saya gak videoin saja ya?  biar lebih valid gitu😀

ibu ini mulai ngeluarin uang pecahan Rp.2000 dari goody-bag orange dan mulai menghitung sambil nengok lagi ke kiri dan ke kanan.

Tanpa sadar saya juga ikut hitung-hitung uang tersebut😅. Ya allah banyak bangat duit-nye. Bayangkan baru setengah yang dikeluarkan dan sesuai dengan yang saya hitung, totalnya Rp.300.000 sodara-sodara. Hebat uy. Itu belum semuanya loh.

Mungkin karena beliau sadar dilihatin sama saya dan kakak saya, beliau langsung masuk ke ruangan circle-K dan ke tempat kasir buat tukar uang.

20170223_142205.jpg
Tukar uang di kasir circle-K

Saya perkirakan uang yang ditukar bisa menembus Rp.500.000 atau lebih. Luar biasa!  Dan itu baru setengah hari ngamen.  Misalkan beliau ngamen dari pukul 6.00 pagi hingga pukul 14.34 dan bisa mendapatkan hasil sebesar itu, berarti jika pengamen ini bertahan hingga malam hari, mungkin pendapatannya bisa menembus angka Rp.1.000.000,- atau juga bisa lebih dari itu.

Huft… coba kita kalikan dengan total hari kerja aktif.  Misalkan pengamen ini bekerja 1 bulan full atau 28 hari, berarti pendapatannya perbulan bisa menembus angka Rp. 28.000.000. Wow.. itu sih setara dengan gaji menejer perusahaan besar dan bonafit. Gilak!

“Ah.. gak mungkin setiap hari dapat segitu? Cuma kebetulan saja kale”

Oke, kita anggap saja mungkin itu cuma kebetulan saja. Fakta dilapangan yang diceritakan oleh pengamen sendiri, 1 hari pendapatan mereka bisa mencapai minimal rp.200.000. Tentunya dalam 1 bulan mereka dapat menghasilkan uang sebesar Rp.6000.000, bukan kah ini mencengangkan? Bahkan pendapatan PNS Saja belum mencapai segitu.

BAGAIMANA GAK MENJAMUR DI JAKARTA? MENGGIURKAN BUKAN?

saya saja penghasilannya gak segitu loh. Hiks😢

Semoga kita lebih bijak dalam memberikan santunan. Menjadi pengamen memang hak mereka, tapi menurut saya, itu pekerjaan hina dan tidak bermartabat serta gak halal dimata Allah. Saya juga tidak punya solusi untuk mereka, namun saya doakan mereka bisa diberi hidayah dan mendapat pekerjaaan dan penghidupan yang lebih bermartabat. Amiin

Konglomerat Jalanan VS Konglomerat Pemerintahan

Konglomerat Jalanan VS Konglomerat Pemerintahan

Suatu hari dibarisan antrian Indomart paling depan, seorang pengamen tua sedang menukar recehan hasil ngamennya. Karena kami memandanginya agak lama dengan tatapan panjang, beliau agak malu dan tidak berlama-lama. Saya terus memerhatikan, ketika kasir menyerahkan selembar lima puluh ribu dan sepuluh ribu, beliau terima dan langsung pergi. Padahal dikantong buatan yang terlilit dipingganya masih banyak recehan yang belum tertukar. Wow, pengamen yang sukses, ada tiga kantong dan baru satu kantong yang ditukar dan itupun tidak semua receh dikeluarkan.

Sebuah perandaian muncul dibenak saya, misalkan seperti ini :

Andaikan uang yang ditukar tadi adalah hasil 1 kali ngamen. Misalkan 1 kali ngamen dalam waktu 2 jam, Bapak  tersebut mendapatkan uang sebesar Rp.60.000. Jika bapak ini beroperasi 1 hari = 8 jam, maka dalam 1 hari Dia dapat mengumpulkan uang ngamen sebesar : (8/2)x60.000=Rp. 240.000, kita konversi ke 1 bulan. Hitung sesuai jam kerja aktif karyawan : 1 minggu = 5 hari kerja=22 hari kerja/bulan. Jadi jika 1 hari mengamen hasilnya sebesar Rp.240.000, 1 bulan = 22×240.000 = Rp. 5.240.000, Lumayan!.

pemisalan lainnya, Kegiatan ngamen pasti bukan memakan waktu 8 jam/hari, pasti lebih dari itu. Saya sering melihat anak-anak yang mengamen, startnya dari jam 6.30 Pagi. Jika bapak ini beroperasi dari jam 6.00 pagi hingga jam 8 .00 malam dan dihitung sama dengan 14.30 jam. Kita bulatkan saja menjadi 14 jam. Sehingga apabila  selama 14 jam bapak tersebut mengamen, belia dapat memeroleh uang sebesar Rp. 50.000, sehingga dalam satu bulan pengamen tersebut bisa mengantongi : Rp.50.000x7X28 hari= Rp. 9.800.000. DAHSYAT BUKAN?. Pendapatan pengamen ini lebih besar dari pegawai negeri sipil.

Sebuah Ironi bukan main yang banyak tumbuh subur laksana gulma dipematang sawah dan itu sulit untuk dibasmi. Telah berakar seperti Tumor. Kasus Pengamen layaknya pengemis. Ada yang tulus karena butuh, ada juga yang gak tulus dan curang mau menjadi mentereng. Bahkan ada pengemis ratusan juta yang saya sebut sebagai “konglomerat jalanan”. Perbedaan keduanya sangat tipis, hanya terteletak pada metode atau cara dalam menghasilkan uang. Pengamen menghasilkan uang dengan cara menyanyi, sedangkan para peminta-minta menghasilkan uang dang cara duduk diam dalam keadaan “mengenaskan”. Perbedaan lainnya yaitu tidak semua pengamen menjadikan kegiatan ngamen sebagai profesi, contohnya mengamennya mahasiswa untuk mencari dana untuk suatu event.  Sementara, pengemis sering mewariskan profesi ini ke anak cucu.

duh, inilah realita nyata yang tumbuh subur di Indonesia. Faktanya bahkan para “konglomerat jalanan” ini berkorporasi hebat dengan berbagai lingkaran mafia serta mempunyai semacam organisasi kuat yang beraliansi dengan berbagai pihak. Secara terang-terangan banyak yang mendeklarasikan diri sebagai kampung pengemis dan juga organisasi pengemis dan pengamen.
Sah-sah saja menurut lembaga Hak Asasi Manusia, namun secara naluri manusia, sesuatu yang terlalu fokus untuk hal yang kurang pantas, adalah hina dan menjadi momok bagi bangsa Indonesia, yang terkenal sebagai bangsa yang kaya dan makmur. Ini pun menjadi tolak ukur yang tidak pernah selesai dari dulu bahwa negara dan bangsa ini masih belum makmur.

Ada sebuah pertanyaan yang muncul dari benak saya, kenapa semakin diberi malah semakin menjadi-jadi? menjadi malas untuk berusaha? menjadi manja untuk meminta? menjadi tidak mau berubah dan bertukar nasib dengan jalan lain?  Coba kita perhatikan pengamen dan pengemis jalanan, apakah semakin berkurang? sebaliknya, pengamen malah semakin bervarian dengan motif yang bermacam-macam. Mulai dari balita hingga manula, dari lagu yang pop hingga rock, bahkan ada beberapa pengamen yang menyangikan shalawatan dan  lagu yang biasanya dibawakan menjelang magrib dimasjid-masjid di Bogor.  Lirik lagunya seperti ini “ Begitulah kisah sang Rasul yang penuh suka duka, yang penuh suka duka” Astagfirullah.. kemana orang tua dan para ulama ?

Ah, bukankan ini sebuah penyakit? ya, penyakit mental akut yang melilit dari semua segi. Banyak solusi sudah dilakukan dari pemerintah untuk para konglomerat jalanan ini, hinggga pembinaan terberat dijeruji besi, namun hal tersebut tidak menjadi solusi.

Bukankah watak dan mental konglomerat jalanan ini secara tidak sadar, sesungguhnya menunjukan mental bangsa ini yang lagi keropos? konglomerat jalanan adalah buah kemiskinan bangsa ini dari banyak dimensi. Dimensi fisik adalah kemiskinan negara berupa pemerataan ekonominya yang masih timpang. Negara masih belum dapat menyejahterakan orang kategori miskin, sesuai amanah UUD ’45 dalam pasal 34 ”Fakir Miskin dan anak-anak terlantar dipelihara Negara”.

Kemiskinan yang lain adalah kemiskinan non fisik yaitu miskin mental dan agama. Mental yang sepertinya tertanam dibawah alam sadar masyarakat saat ini yaitu konsumtif dan malas mencipta. Jika ada yang mencoba mencipta, dijegal oleh pemerintah, dari mulai hak cipta hingga kelayakan penggunaan. Sebaliknya kebanyakan masyarakat lebih mencintai dan bangga terhadap produk orang lain, apalagi yang berbau kebarat-baratan atau korea-koreaan. Tak heran, banyak kran impor dibuka dibading swasembada sendiri, mulai dari padi, daging, hingga jarum pentul. Bahkan ada yang bersembohyan “Jika bisa impor, ngapain swasembada”.

Kemiskinan metal diatas didukung juga dengan kondisi miskinnya nilai agama dalam masyarakat Indonesia yang nota bene 85% Islam. Padahal dalam agama,  kita diajarkan untuk mempunyai budaya malu, yaitu malu sebagian dari iman. Selain itu, dalam agama diperintahkan untuk bekerja sebagai bentuk ibadah dan meminta-minta adalah sebuah hal yang hina dan ganjarannya adalah berwajah tanpa daging ketika berada di penghisaban kelak.

Konglomerat jalanan sesungguhnya cerminan dari konglomerat dipemerintahan dan konglomerat senayan. mereka yang suka meminta-minta pada konglomerat yang sesungguhnya demi jabatan atau pucuk kepimpinan, sehingga mereka rela jual dan buat apa saja sebagai bentuk balas budi. Tidak saja hutang, bahkan hampir negara ini diserahkan kepada pihak asing dan aseng.

Pajak dan uang rakyat untuk menghidupi mereka tidak menjadi sebuah kepuasan, namun kebuasan. Buas untuk dapat lebih sehingga korupsi, koorporasi, koordinasi dengan berbagai aliansi mereka jalani demi perut dan agar tabungan berisi.

Mungkin tidak semua yang duduk dipemerintahan dan senayan atau yang memegang jabatan begitu. Ah.. tapi yang terlihat demikian. negara ini penuh dengan pesakitan mulai dari yang hidup jalan hingga yang hidup di pemerintahan. Bangga menjadi konglomerat dengan cara apapun.

lantas, apakh kita masih berharap hidup seperti ini terus-menerus?

Hidup tanpa “identitas”, integritas, dan gengsi serta kebanggan diri?

Oh mari rubah semua mental itu, mental koruptif dan pesimist serta komsumtif. Sudah saatnya semua orang berevolusi, bukan saja revolusi mental, tapi revolusi untuk kembali kepada nilai-nilai ilahi dan nilai-nilai ibu pertiwi, yang humanis, penuh semangat juang, percaya diri dan tinggi integritas, berakhlak karimah dan taqwa serta, berdikari.

FROM ZERO TO BE HERO (I) : PEDAGANG ASONGAN ONLINE

FROM ZERO TO BE HERO (I) : PEDAGANG ASONGAN ONLINE

Hari ini tepat satu tahun, terhitung saya resign dari kantor saya. Semula dari staf sekretariat, sekarang saya menjadi “penggangguran (unemployee)”, bisa dikatakan demikian. Saya gak berstatus apa-apa, selain sebagai pedang asongan online. 

ini nih toko online di instagram @mikala_aromatica. kami menjual produk-produk essential oil 100% pure,blended, dan produk-produk aromatherapy lainnya. Follow ya sist 😀

Screenshot_2017-02-20-20-21-59-1.png

Memutuskan untuk bewirausaha atau bahasa kerennya be an entepreneur, bukanlah pilihan banyak orang. Hanya sekitar 1% dari pekerja dengan status aktif yang mau memilih dunia ini sebagai tambahan penghasilan atau benar-benar  all out untuk menjalani dunia ini. Selain banyak tantangan dan resiko yang harus dihadapi, keputusan tersebut harus melewati “sidang” dari orang-orang terdekat kita. Ya, terutama orang tua.

Jujur, sebelum saya melangkah melakukan resign, banyak hal yang harus saya siapkan, mulai dari alasan, hingga hal-hal kecil lainnya, dan terutama bagaimana saya bisa meyakinkan orang tua saya terhadap keputusan ini. Walaupun, hingga saat ini orang tua saya masih belum setuju dengan keputusan ini. Karena saya melangkah dari nol, tanpa ada donatur dan kerja sama, serta tidak melalui riba. Keberanian melakukan langkah dari ZERO atau NOL ini karena saya yakin saya bisa bertumpu dengan kedua kaki saya sendiri. Insha allah. Padahal, saya juga masih memiliki tanggungan terhadap adik-adik saya.

Tumbuh sebagai kakak dari 4 adik yang masih sekolah, keberlanjutan pendidikan mereka diamanahi ke saya dan beberapa kakak saya. Karena orang tua saya sudah sepuh dan kami tidak ingin memberatkan mereka. Kami juga ingin mewujudkan cita-cita mereka untuk meng-S1- kan kami semua. Bagai tongkat estafet, ketika satu orang telah sukses meraih gelar sarjana, dia harus melanjutkan hal tersebut kepada saudara lainnya. Itu prinsip dalam keluarga saya. Kebetulah saya mempunyai tiga orang kakak. Adik saya yang pertama, alhamdulillah, sudah selesai kuliah dan nasib dia lebih baik dari kami, bisa dibilang seperti itu. Saat ini, dia berstatus PNS di Dinas Perikanan Kabupaten Buru. Adik saya yang ke dua saat ini sedang menjalani kuliah di semester akhir. Dia berkuliah di Universitas Muhammadiyah Malang. Tanggungan kuliah adik satu ini agak berat. Sementara, adik saya yang ke tiga masih belum kuliah. Dia sudah mencoba mengikuti tes masuk perguruan tinggi SBMPTN sebanyak dua kali, namun masih belum lolos. Saya agak cukup sedih dengan hal ini, lebih sedih lagi karena pilihan jurusannya adalah kedokteran. Taukan bagaimana biayanya? Mudah-mudahan bisnis kaka nih sukses ya dek. Kamu mau jurusan apa saja, silahkan. Sampai ke MARS PUN SILAHKAN. Adik ke empat saya masih berstatus sebagai siswa SMA.

Menimbang dan menimbang. Ketika saya ditanya pertama kali oleh bos saya, apa alasan saya untuk resign? saya tidak mengatakan bahwa saya ingin berwirausaha, tapi saya katakan bahwa saya ingin mengajukan S2. hmm maaf ya bos.  Memang-sih sebenarnya ada tujuan lain dari saya, yaitu ingin mengajukan beasiswa LPDP untuk s2 saya. Eh alhamdulillah, saya lulus beasiswa LPDP dalam negeri dan saat ini saya baru mau mendaftar di perguruan tinggi yang akan saya tuju.

Alasan diatas lebih diperkuat dengan pernyataan bahwa saya telah berkomitment mengabdi dikantor ini hingga saat ini saja. kata teman-teman saya, “kamu stress atau bosan?” “gak tau deh, mungkin dua-duanya” atau jangan-jangan saya sudah gila?” MUAK, JENUH, PLIN-PLAN, GALAU, MERACAU. COMPLICATED- lah. BODOH. FIKS!

Hingga saat ini pun, teman-teman saya masih menyesalkan keputusan saya tersebut. Saya juga gak habis pikir dengan kondisi saya saat ini, serba pas-pas-an dan terjepit. Penghasilan dan omset gak tetap. Jika ada pelanggang alhamdulillah, kalo tidak, hmm sepi, kantong kering. Karena ternyata bisnis online dari NOL itu agak berat. Apalagi konsepnya belum bagus dan belum berani melakukan kerjasama dengan berbagai pihak. Selain itu, saya masih tetap menanggung adik saya untuk kuliah dan dia mau wisuda tanggal 25 Februari 2017 ini. TAPI begitulah hidup. Saya sudah berani memutuskan, saya juga harus berani untuk maju ke depan. Saya yakin bahwa Allah akan melihat usaha saya dan rezeki manusia itu tidak akan tertukar. Buktinya, tanpa kerja saya bisa hidup selama 1 tahun ini dari usaha saya. dan walaupun hasil yang  saya peroleh sedikit, saya masih tetap bisa membantu ke adik-adik saya, mereka tetap bisa sekolah.

Kadang saya sendiri pun putus asa dan sedih. Namun, saya mencoba bangkit kembali dengan mengingat apa yang sudah saya lakukan bulan-bulan kemarin dan apa yang saya impikan kedepannya, baik buat keluarga, agama maupun untuk bangsa dan negara. Saya ingin benar-benar menjadi wanita yang bermanfaat dan hidup saya penuh keberkahan.

Hari ini, omset saya baru 10 juta perbulan, pada bulan februari ini. Omsetnya turun naik seperti ombak. Mungkin karena saya belum rajin promosi atau kejar target, masih belum dapat cara yang efektif, modal tipis, atau belum punya karyawan, atau barangkali saya juga belum menikah #eh ups. Jadi , saya belum semaju orang lain?

Kadang dalam doa saya selalu merintih. “Ya allah kapan jalan yang baik dan rezeki yang lancar berpihak kepada saya?. doa saya pun belum terwujud, tapi saya yakin Allah itu gak tidur dan gak tuli. Saya harus tetap semangat dan berjuang. Doa saya di tahun 2017 dan di akhir februai ini agar saya bisa dapat orderan dengan keuntungan yang besar dan tetap tiap bulannya. Jika belum dalam bulan ini, semoga bulan depan dan selanjutnya doa saya terwujud. Mudah-mudahan saya bisa kuliah sambil usaha. Kebetulan jurusan S2 yang akan saya ambil adalah jurusan Magister Bisnis. hmm..mengenai perjuangan meraih beasiswa akan saya tulis ketika sudah lulus masuk jurusan ya.

Mohon doa-nya, agar saya bisa sukses dan bisnis saya juga maju, toyib, dan berkah buat semua orang. Doa anda akan berbalik kepada Anda sendiri. Amiin.

 

KULIT MU SAWO MATANG, PD AJA!

KULIT MU SAWO MATANG, PD AJA!

Apakah kalian mempunyai pengalaman seperti ini?

ketika kalian sedang bersama teman-teman, tiba-tiba ada yang menghampiri dan bilang “kok kamu hitam bangat?” dan tiba-tiba kamu merasa seperti langit mendung, kalian pun pundung, dan tersinggung?

Ah Lebay, memang agak lebay sih. Tapi itu hal yang pertama kali saya alami. Sebuah pertanyaan yang tidak mengenakkan. Karena pada pertama kali menginjakkan kaki di Kampus, saya belum pernah dengar lontaran pertanyaan konyol dan rasis seperti itu. #curhat#

Jujur, Dulu saya adalah seseorang yang sangat cepat tersinggung. Selain itu, saya juga sangat kaku serta penakut untuk membalas penghinaan atau apapun. Jurus andalan saya setiap menghadapi masalah, yaitu selalu diam dan tersinggung hehe. Padahal, sebenarnya saya bisa menjawab pertanyaan waktu tersebut dengan jawaban:  So What? Masalah buat lo? Rasis bangat sih kamu? DLL, maybe 😀 (maklum masih bocah)

Tapi kini saya bangga dan bersyukur dan ingin share, kenapa kita harus bangga dan bersyukur dengan kulit gelap kita.

Image result for anggun c sasmi
Anggun C Sasmi

Memiliki kulit yang lebih gelap bukanlah sebuah aib, namun adalah anugerah yang maha kuasa bagi orang Indonesia, terutama bagi yang tinggal di wilayah timur Indonesia atau yang bermukim dipesisir laut. Sebaliknya, kita harus bersyukur dan berbangga akan hal tersebut, karena:

Pertama, kulit sawo matang adalah ciri khas cantik eksotik Indonesia dan anugrah Indah dari tuhan yang maha kuasa. Pernahkah kalian lihat para bule yang rela berjemur dan ber-Tannin ria karena ingin berkulit gelap? bahkan mereka rela mengeluarkan uang yang banyak untuk melalukan semua itu. Disisi lain, ada beberapa negara yang memiliki trend dan stigma kecantikan yang berbeda dari negara kita. Contohnya Amerika. Bagi sebagian warganya, YANG BEKULIT GELAP ADALAH YANG CANTIK DAN “SEKSI”. Karena stigma demikian, Idol-idol dari bangsa afro-amerika seperti, RIHANA, MARIA CAREY, Zoe Saldana, dan lainnya menjadi primadona.

Indonesia gak usah dihitung deh, bisa angkut pake kontainer orang-orang “cantik” diatas hehe. Coba perhatikan artis Indonesia seperti Agnes Monica, yang sering terlihat gelap ketimbang putih dalam video konser di luar negeri. Bahkan Chef Farah Quen juga sering terlihat lebih eksotik. Yup, karena bagi orang luar, kulit sawo matang adalah kulit yang cantik dan uniq. Tak Heran jika Anggun C.Sasmi sering disebut sebagi Icon Eksotisme wanita Indonesia.

Dan sadar gak sih, kenapa Bule Belanda dan Bule lainnya suka menikahi orang Ambon, Batak dan orang-orang berkulit sawo matang? Plak.. Bangga gitu hehe

Jadi, kita tak perlu malu memiliki kulit sawo matang. Karena itu adalah ciri khas wanita Indonesia. Tugasnya kita adalah merawat dengan baik dan berkarakter baik, serta percaya diri. Kita akan terlihat manis, anggun, dan memesona.

Image result for hijab from afrika
wolipop.detik.com

Kedua, Kulit Sawo matang atau gelap lebih rentan terhadap paparan sinar matahari, sehingga efek penuaan dini dan kanker kulit pun bisa dihindari. guys? Fakta unik dan menarik dari kita yang berkulit gelap adalah banyaknya kadar melanin yang terkandung di dalam kulit membuat kulit kita lebih tahan terhadap paparan sinar matahari yang dapat menyebabkan kulit terbakar hingga kanker kulit. Namun, bukan berarti kita tidak boleh menggunakan pelindung (SPF). Yup, Kita harus tetap menggunakan SPF, namun dengan kadar yang tidak terlalu tinggi. Apalagi dengan semakin tinggi pemanasan global kedepannya, kadar sinar UV juga akan semakin tinggi. Nah, bagi yang berkulit putih, agak riskan dan harus membutuhkan pelindung yang banyak.

Ketiga, Warna kulit mu tidak harus diganti dan dirubah? namun cantik hati dan karakter dirimu lah yang harus dirubah menjadi lebih baik.

Image result for muslimah sawo matang
sumber : source

Menjadi sawo matang dan tetap mempertahankannya membuat kita lebih berprinsip dan berkarakter. Jadi kita tidak usah khawatir bahwa dengan berkulit gelap, pria akan mempertimbangkan lebih dalam untuk menikah?. Hmm Jodoh itu bukan sesuai dengan warna kulit kita, namun sesuai dengan karakter kita. Banyak kok pria diluar sana yang malah mencari para wanita yang kuat prinsipnya dan berkarakter baik. Jadi fokuslah pada hati dan akhlak mu, bukan kulit mu.

Yakinlah bahwa ukuran cantik tidak seperti apa yang disampaikan iklan pemutih kulit yang banyak berseliweran di berbagai media. Karena kebanyakan iklan tersebut adalah propaganda oleh pembuat produk untuk melariskan dagangannya. Apakah ada bukti bahwa ketika orang Afrika menggunakan krim pemutih kemudian kulitnya berubah seperti orang Barat? Walaupun dipaksakan dengan sejumlah perawatan dan treatmen seperti suntik putih dan lainnya. Hasilnya akan terlihat : Dia-Bukan- Dia- yang sesungguhnya. Masih ingat dengan penyanyi Pop terkenal?, Almarhum Mc. Jackson?

Yup..percaya dirilah dengan apa yang Allah anugerahkan. Bangga dan Pe-De dengan apa yang kita miliki adalah suatu bentuk syukur dan wujud keberanian untuk bisa jadi diri sendiri. Bukannya tuhan menciptakan setiap manusia beragam? pasti juga punya beragam makna dan ukuran? Dan Kelayakan dihadapan-Nya adalah ukuran takwa dan baiknya akhlak dan hati, bukan ukuran fisik.

Ingat, Jangan merasa hina dengan kulit gelap mu, Karena Allah sendiri tak pernah sebut apapun dalam alquran bahwa yang berkulit cerah itu AHLI SYURGA 😀

 

Belajar Bersyukur dari Keluarga Pemulung

Belajar Bersyukur dari Keluarga Pemulung

Image result for bocah pemulung
ilustrasi

Setiap hari saya lewati tempat yang sama. Di sana saya sering melihat 3 orang anak kecil tidur-tiduran dilantai, di depan pagar pembungkus koperasi dengan beralas Koran. Saya ingin sekali bertanya “dimana orang tua kalian wahai anak kecil?” kenapa kalian sering disini? Gak kepanasan atau berdebu atau berasap dengan lalu lalang kendaraan?” Tapi ah.. saya tidak bisa berbuat apa-apa jika mereka menjawab “ibu kami sedang memulung, kami tidak punya rumah, hanya gerobak dan emperan tempat sandaran kami.” Ya Allah hanya doa yang bisa saya panjatkan kepada mereka. Semoga mereka bisa mempunyai tempat tidur yang lebih baik dan lebih nyaman.

Tapi, kenapa mereka terlihat bahagia? Padahal hati saya tidak terlihat bahagia melihat mereka. Mereka bocah-bocah polos yang mungkin lahir di emperan atau gerobak. Mereka bahkan tidak peduli bahwa sandaran duduk mereka adalah pagar besi dan alas duduk mereka adalah karung. Tidak ada tempat main atau hidup yang layak. Mereka kumuh dan kotor seperti gerobak mereka. Namun ada pancaran kebahagiaan dan rasa syukur disemburat wajah mereka yang lebih dari kegembiraan orang-orag dalam rumah gedongan itu. Saya sampai sekarang belum tau apa pekerjaan ayah dan ibu mereka. Saya hanya melihat mereka berprofesi sebagai pemulung. Ibunya tidak meminta-minta, namun memulung. Bukankan lebih mulia?

Pernah suatu hari saya pulang dari les hari sabtu siang, saya melihat adik perempuan dari 4 orang tersebut sedang terlelap dalam gerobak beralaskan sampah berlapis kardus. Dia tertidur dengan nyenyak seperti tidur beralaskan spring bed dan dalam ruangan ber-AC. Ya Allah, hati saya teriris, ingin saya ajak anak ini tidur dikamar kosan saya, tapi apakah ibu kos saya mengijinin? Sementara adiknya tertidur, tiga orang kakak-beradik lainny, asik bermain, ditemani sebungkus roti coklat. Sepertinya ada orang yang berempati dengan mereka. Mereka sangat bahagia dan bersyukur. Kebahagiaan mereka menghapus semua rasa bahwa mereka hidup di gerobak dan emperan. Sungguh rasa syukur mereka lebih dari siapapun.

Suatu hari, ketika hujan deras turun membasahi Jakarta. Hari agak gelap, kira-kira sekitar jam 7 sore. Saya tidak bisa mengalihkan pikiran saya ke yang lain. Pikiran saya tertuju pada keluarga pemulung tadi. Sekarang mereka berlindung dimana? Bahkan rumah kardus saja mereka tidak punya. Lagi-lagi, saya hanya bisa memanjatkan doa. Besoknya saya mengecek, ternyata mereka baik-baik saja dan bahagia. Alhamdulillah
Saya tidak bisa membayangkan dinginnya malam berhembus hujan. Mereka berhangatkan diri dengan apa? Saya tidak melihat koleksi pakaian atau lemari mereka dengan selimut tebal didalamnya. Simpan dimana selimut mereka?. Apakah anak-anak polos dan ceria itu sempat mengeluh atau menangis dan menanyakan Ma, Pah, kenapa kita hidup disini? kenapa kita tidak punya rumah? Apa yang harus dijawab oleh kedua orang tuanya.

Saya jadi teringat masa kecil saya, ketika musim paceklik tahun 1998. Setiap hari, kami hanya makan ubi dan ubi. Saya sampai menangis dan mengatakan kepada kedua orang tua saya “kenapa setiap hari kita makan seperti ini?” Kapan kita bisa makan beras?”  Ibu saya hanya bisa diam dalam kesedihan. Hal ini dikenang oleh Ibu saya bertahun-tahun, sehingga ketika kami makan ubi, beliau selalu ingat masa-masa itu dan mengulang kembali pertanyaan saya.

Siang ini saya kembali melihat ke empat anak tadpemulung itu  sedang bermain di emperan koperasi bersama Ibunya. Saya perhatikan dengan baik, si anak yang tua harusnya sudah bersekolah, tapi dengan kondisi kehidupan yang demikian, mungkin mereka tidak sanggup. Ada keceriaan yang menghilangkan semua kesusahan dan kegudahan. Mereka seolah-olah hidup normal dan tidak pernah mengeluh. Begitu juga dengan ibu mereka yang tidak menampakan prihatin dan kesedihan. Sepertinya ibunya juga tidak tahu cara menyekolahkan anak-anaknya. Sebuah interpretasi dan nilai rasa syukur yang tinggi yang tampak dari keluarga kecil pemulung ini. Herannya saya, sudah hidup dijalan, mereka punya banyak anak. Seolah-olah tidak ada rasa khawatir membesarkan anak mereka dengan layak. Mungkin Si Ibu tau bahwa setiap anak punya rezekinya sendiri.

Sementara disekitar si keluraga pemulung ini, berdiri rumah-rumah gedongan berpagar tinggi. Hidup mereka sangat kontras dengan kehidupan pemulung ini. Setiap hari mereka dengan berkendaraan melewati anak-anak pemulung yang sedang bermain. Asap kanalpot saja yang diberikan kepada anak-anak ini. Seakan seperti pemandangan biasa saja bagi penghuni kompleks ini. Sehingga tidak ada inisiatif untuk bagaimana membantu orang susah ini, walaupun hanya garasi untuk rumah atau biaya pendidikan anaknya. Padahal mungkin uang jajan anak-anak mereka bahkan lebih besar dari pendapatan si keluarga pemulung tadi. Ya Allah pemandangan yang sangat miris dikehidupan kota Jakarta ini. Orang-orang hidup dengan prinsip loe-loe, gw-gw, sehingga mengabaikan rasa social dan kemanusiaan. Saya bisa mengatakan bahwa gerobak keluarga pemulung ini adalah tembok pembatas antara mereka dan keluarga dalam rumah-rumah gedongan itu, bagaikan kaum borjouis dengan kaum buruh. Setahu saya, yang hidup di komplek tersebut banyak orang alim dan beragama, tapi kenapa masih biasa saja reaksinya terhadap keluarga ini.

Ada beberapa hal yang disampaikan oleh teman saya ketika saya melontarkan pertanyaan mengenai hal ini. Jawabanya adalah Banyak orang susah yang serumpun dengan keluarga ini, jadi jika hari ini ada orang yang memberika fasilitas dan bantuan kepada keluarga ini, datanglah keluarga yang lain dan menyusul yang lain, sehingga menjamurlah keluarga-keluarga baru yang malas dan hanya berharap kasih dari bantuan tersebut. Seperti pengemis yang subur karena sering diberi. Tapi menurut saya prinsip demikian salah. Allah berfirman dan memberi teguran kepada Manusia dalam Q.S Surah Al Ma’un (1-7) :
(1) Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?, (2) Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, (3) Dan tidak mendorong memberi makan orang miskin, (4) Maka celakalah orang yang sholat, (5) (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap sholatnya, (6) yang berbuat Ria, (7) yang enggan (memberikan) bantuan.
Jangan sampai sikap kita mengabaikan ayat ini. Lalu pertanyaannya dimanakah pemimpin (lurah, RT, atau RW) kompleks tersebut? Apakah mereka tidak punya inisiatif sama sekali membantu musafir ini? Bukankah, mereka pemulung itu adalah tetangga kaum borjouis dan elit itu? Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) :

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga yang bukan kerabat, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. An Nisa: 36)

Masya Allah, sesungguhnya ada ancaman dalam ayat diatas bagi kita yang berpikir dan sadar. Hidup begitu penuh dinamika, intrik, dan dosa.

Ada pelajaran yang berharga dan makna dari sebuah kehidupan. Ya, paling tidak dari keluarga pemulung ini saya bisa banyak mengambil ibrah kesabaran dan rasa syukur yang tinggi kepada Allah SWT. Jangan suka mengeluh dengan semua masalah yang datang. Jika engkau belum mampu saat ini, maka lihatlah kebawah, sehingga engkau tetap bersabar dan qonaah. Jika uangkau berkecukupan, lihatlah ke atas, sehingga engkau tidak merasa sombong dan Jumawa. Melihat keluarga pemulung ini, semoga kita bisa meningkatkan rasa empati dan hubungan sosial terhadap sesama manusia, terutama saudara kita seiman. Walaupun kadang banyak juga pemulung jadi-jadian yang ada di Kota Jakarta. (Tulisan lama, 2013)

Yuk Berkunjung Ke Pantai Jikumarasa, Pulau Buru

Yuk Berkunjung Ke Pantai Jikumarasa, Pulau Buru

Dibalik keterisolirnya sebagai “penjara” tahanan orde baru, Pulau Buru menyimpan “harta” lain yang tak terkira, yaitu pantai-pantai yang memukau dan berpotensi sebagai spot-spot diving, surfing, dan snorkeling. Salah satu pantai yang juga telah menjadi primadona untuk snorkeling adalah Pantai Jikumarasa.

Pantai Jikumarasa terletak di Desa Jikumarasa, Kecamatan Namlea, yaitu sekitar 9-10 Km dari Bibir kota Namlea. Pantai ini dari dulu merupakan tempat favorit wisata masyarakat Pulau Buru. Sebenarnya, kebanyakan pantai yang ada di Pulau Buru mempunyai karakteristik yang sama, yaitu : berpasir halus dan putih bersih. Namun, ada keunikan tersendiri dari Pantai Jikumarasa dibanding pantai-pantai lainnya di Pulau Buru, yaitu terhubung dengan sungai, sehingga kita bisa menikmati pantai dan sungai yang menawan.

namlea
Pantai Jikumarasa Pulau Buru

Disepanjang bibir pantai jikumarasa, tumbuh pohon cemara laut berjejer-jejer hijau sepanjang mata memandang. Nyiur dan bakau terlihat apik dipelataran pantai dan Sungai Bom, sungai yang terhubung dengan pantai Jikumarasa tersebut. Inilah kolaborasi Unik dari Pantai yang selalu saya rindukan untuk di Kunjungi. Selain itu, di belakang Desa Jikumarasa terdapat gunung-gunung yang berjejer hijau. Sehingga kita melihat seolah-olah Pantai Jikumarasa dipagari oleh gunung-gunung hijau tersebut. Ah rasanya seperti ada sepotong Syurga ditepi Pulau.

Konon, menurut cerita masyarakat Namlea, Sungai Bom terbentuk karena hasil ledakan bom tentara Jepang yang diluncurkan dari Pesawat. Waktu itu, bom-bom dijatuhkan untuk membumi hanguskan tentara sekutu pada perang dunia ke Dua. Jika cerita ini benar, maka ada peninggalan sejarah yang tak ternilai dan tidak diketahui bahkan oleh generasi sekarang. Distinasi wisata didaerah ini merupakan distinasi wisata dan history.

Pantai Jikumarasa sangat ramai dikunjungi masyarakat pada week day, terutama pada hari minggu dan juga pada waktu libur. Pengunjung yang datang ke pantai ini, kebanyakan adalah rombongan pelajar dan keluarga yang menghabiskan akhir pekannya. Rata-rata pengunjung berasal dari kota Namlea sendiri. Pengunjung seperti turis asing sangat jarang terlihat. Hal ini karena sampai saat ini, promosi tempat ini belum terlalu masif dan akses ke Pulau Buru masih sulit dan panjang.

Saat ini fasilitas yang tersedia adalah satu kafe dan penginapan, sedangkan fasilitas terbaru adalah permainan banana boot. Dulu permainan air di Pantai Jikumarasa hanyalah ban karet yang berfungsi untuk membantu pengunjung berenang. Selain itu, kadang-kadang pengunjung menyewa perahu nelayan. Itupun jika disediakan masyarakat desa setempat. Untuk fasilitas kafe dan penginapan, tempat-tempat ini jarang diminati oleh pengunjung lokal. Karena selain masih mahal, dari dulu hingga sekarang pengunjung yang datang ke tempat ini hanya sekedar bertamasya dari pagi hingga sore. Bagi masyarakat Namlea (pengunjung), menikmati pantai pada malam hari bukanlah sesuatu yang biasa, sehingga kebanyakan pengunjung tidak pernah menikmati indahnya malam di Pantai Jikumarasa.

Jika pengunjung merasa bosan bermain air laut, pengunjung dapat menikmati sungai dan pemandangan sungai yang menawan. Biasanya sungai ini dipakai untuk membilas diri dari air laut.

TRANSPORTASI

Untuk menuju ke pantai ini, pengunjung bisa menggunakan motor, mobil, atau angkutan umum. Jika menggunakan angkutan umum, tarif pulang perginya yaitu Rp 18.000 per orang, dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Untuk masuk ke tempat ini pengunjung hanya membayar tarif masuk sebesar Rp 5000 per orang dan jika ingin memarkir kendaraan dalam kawasan pantai, pengunjung harus menambah bayaran lagi sebesar Rp 5000 per kendaraan.

Bagi anda wisatawan dari luar Pulau Buru, tentunya untuk ke Pantai Jikumarasa, anda harus datang dulu ke Pulau Buru. Untuk ke Pulau Buru, bisa menggunakan transportasi laut dan udara melalui kota Ambon. Transportasi laut yang dapat digunakan yaitu kapal besar seperti KM. Lambelu atau KM. Mapulu. Namun, kapal-kapal ini biasanya dua minggu sekali baru bisa ke Namlea, karena rute perjalanannya panjang yaitu : Jakarta-Sulawesi-Ambon-Namlea. Biaya transportasi pulang pergi menggunakan kapal-kapal ini untuk rute Ambon- Namlea, yaitu sekitar Rp 180.000 per orang. Waktu perjalanannya selama 5 jam.

Selain kapal besar, bisa juga menggunakan kapal-kapal kecil yang banyak tersedia seperti KM. Elizabet dan lainnya. Tarif pulang pergi sebesar Rp 200.000 per orang. Perjalan yang ditempuh menggunakan kapal kecil ini selama 7 jam. Selain itu, bisa menggunakan alternatif lain yaitu feri, yang setiap hari pasti ada, namun perjalanan yang ditempuh sekitar 8 hingga 9 jam (Ambon-Namlea). Tarif pulang pergi yaitu Rp 150.000 per orang. Perjalan laut ini mungkin sangat lama bagi yang belum terbiasa, sehingga sebaiknya dalam perjalanan laut, perlu membawa obat anti mabuk. Selain itu, bagi yang ingin ke Pulau Buru dengan perjalanan laut, sebaiknya jangan pada bulan Februari, Juli, dan Juni. Karena pada bulan-bulan tersebut gelombang lautnya tinggi, sehingga bisa menggunakan alternatife kedua yaitu melalui jalur udara. Jika menggunakan jalur ini, waktunya hanya 25 menit untuk perjalanan dari kota Ambon ke Namlea. Namun, jika menggunakan transportasi ini, siap-siap untuk merogok kocek sekitar Rp 300.000 sekali jalan. Jadi untuk bolak-balik, biaya yang diperlukan sekitar Rp 600.000. Untuk Penginapan wisatawan bisa menginap di penginapan dengan tarif mulai dari Rp 150.000 per malam.

Info terbaru, pada tahun 2017, insha allah, akan diresmikan bandara Internasional di Pulau Buru. So, bagi anda yang tertarik berkunjung ke Jikumarasa, anda tidak usah khawatir. Karena perjalanannya akan semakin mudah dan langsung dari Jakarta dan Kota-kota besar lainnya.

Bagi anda yang ingin mengunjungi pantai ini, saya sarankan datanglah di pagi hari karena anda akan menikmati indahnya sunrise pagi diatas sungai yang menganga ke laut. Selain itu anda bisa menghirup udara segar yang berhembus dari pohon-pohon cemara laut Pantai Jikumarasa.

Semoga Info Ini bermanfaat 😀