Konglomerat Jalanan VS Konglomerat Pemerintahan

Konglomerat Jalanan VS Konglomerat Pemerintahan

Suatu hari dibarisan antrian Indomart paling depan, seorang pengamen tua sedang menukar recehan hasil ngamennya. Karena kami memandanginya agak lama dengan tatapan panjang, beliau agak malu dan tidak berlama-lama. Saya terus memerhatikan, ketika kasir menyerahkan selembar lima puluh ribu dan sepuluh ribu, beliau terima dan langsung pergi. Padahal dikantong buatan yang terlilit dipingganya masih banyak recehan yang belum tertukar. Wow, pengamen yang sukses, ada tiga kantong dan baru satu kantong yang ditukar dan itupun tidak semua receh dikeluarkan.

Sebuah perandaian muncul dibenak saya, misalkan seperti ini :

Andaikan uang yang ditukar tadi adalah hasil 1 kali ngamen. Misalkan 1 kali ngamen dalam waktu 2 jam, Bapak  tersebut mendapatkan uang sebesar Rp.60.000. Jika bapak ini beroperasi 1 hari = 8 jam, maka dalam 1 hari Dia dapat mengumpulkan uang ngamen sebesar : (8/2)x60.000=Rp. 240.000, kita konversi ke 1 bulan. Hitung sesuai jam kerja aktif karyawan : 1 minggu = 5 hari kerja=22 hari kerja/bulan. Jadi jika 1 hari mengamen hasilnya sebesar Rp.240.000, 1 bulan = 22×240.000 = Rp. 5.240.000, Lumayan!.

pemisalan lainnya, Kegiatan ngamen pasti bukan memakan waktu 8 jam/hari, pasti lebih dari itu. Saya sering melihat anak-anak yang mengamen, startnya dari jam 6.30 Pagi. Jika bapak ini beroperasi dari jam 6.00 pagi hingga jam 8 .00 malam dan dihitung sama dengan 14.30 jam. Kita bulatkan saja menjadi 14 jam. Sehingga apabila  selama 14 jam bapak tersebut mengamen, belia dapat memeroleh uang sebesar Rp. 50.000, sehingga dalam satu bulan pengamen tersebut bisa mengantongi : Rp.50.000x7X28 hari= Rp. 9.800.000. DAHSYAT BUKAN?. Pendapatan pengamen ini lebih besar dari pegawai negeri sipil.

Sebuah Ironi bukan main yang banyak tumbuh subur laksana gulma dipematang sawah dan itu sulit untuk dibasmi. Telah berakar seperti Tumor. Kasus Pengamen layaknya pengemis. Ada yang tulus karena butuh, ada juga yang gak tulus dan curang mau menjadi mentereng. Bahkan ada pengemis ratusan juta yang saya sebut sebagai “konglomerat jalanan”. Perbedaan keduanya sangat tipis, hanya terteletak pada metode atau cara dalam menghasilkan uang. Pengamen menghasilkan uang dengan cara menyanyi, sedangkan para peminta-minta menghasilkan uang dang cara duduk diam dalam keadaan “mengenaskan”. Perbedaan lainnya yaitu tidak semua pengamen menjadikan kegiatan ngamen sebagai profesi, contohnya mengamennya mahasiswa untuk mencari dana untuk suatu event.  Sementara, pengemis sering mewariskan profesi ini ke anak cucu.

duh, inilah realita nyata yang tumbuh subur di Indonesia. Faktanya bahkan para “konglomerat jalanan” ini berkorporasi hebat dengan berbagai lingkaran mafia serta mempunyai semacam organisasi kuat yang beraliansi dengan berbagai pihak. Secara terang-terangan banyak yang mendeklarasikan diri sebagai kampung pengemis dan juga organisasi pengemis dan pengamen.
Sah-sah saja menurut lembaga Hak Asasi Manusia, namun secara naluri manusia, sesuatu yang terlalu fokus untuk hal yang kurang pantas, adalah hina dan menjadi momok bagi bangsa Indonesia, yang terkenal sebagai bangsa yang kaya dan makmur. Ini pun menjadi tolak ukur yang tidak pernah selesai dari dulu bahwa negara dan bangsa ini masih belum makmur.

Ada sebuah pertanyaan yang muncul dari benak saya, kenapa semakin diberi malah semakin menjadi-jadi? menjadi malas untuk berusaha? menjadi manja untuk meminta? menjadi tidak mau berubah dan bertukar nasib dengan jalan lain?  Coba kita perhatikan pengamen dan pengemis jalanan, apakah semakin berkurang? sebaliknya, pengamen malah semakin bervarian dengan motif yang bermacam-macam. Mulai dari balita hingga manula, dari lagu yang pop hingga rock, bahkan ada beberapa pengamen yang menyangikan shalawatan dan  lagu yang biasanya dibawakan menjelang magrib dimasjid-masjid di Bogor.  Lirik lagunya seperti ini “ Begitulah kisah sang Rasul yang penuh suka duka, yang penuh suka duka” Astagfirullah.. kemana orang tua dan para ulama ?

Ah, bukankan ini sebuah penyakit? ya, penyakit mental akut yang melilit dari semua segi. Banyak solusi sudah dilakukan dari pemerintah untuk para konglomerat jalanan ini, hinggga pembinaan terberat dijeruji besi, namun hal tersebut tidak menjadi solusi.

Bukankah watak dan mental konglomerat jalanan ini secara tidak sadar, sesungguhnya menunjukan mental bangsa ini yang lagi keropos? konglomerat jalanan adalah buah kemiskinan bangsa ini dari banyak dimensi. Dimensi fisik adalah kemiskinan negara berupa pemerataan ekonominya yang masih timpang. Negara masih belum dapat menyejahterakan orang kategori miskin, sesuai amanah UUD ’45 dalam pasal 34 ”Fakir Miskin dan anak-anak terlantar dipelihara Negara”.

Kemiskinan yang lain adalah kemiskinan non fisik yaitu miskin mental dan agama. Mental yang sepertinya tertanam dibawah alam sadar masyarakat saat ini yaitu konsumtif dan malas mencipta. Jika ada yang mencoba mencipta, dijegal oleh pemerintah, dari mulai hak cipta hingga kelayakan penggunaan. Sebaliknya kebanyakan masyarakat lebih mencintai dan bangga terhadap produk orang lain, apalagi yang berbau kebarat-baratan atau korea-koreaan. Tak heran, banyak kran impor dibuka dibading swasembada sendiri, mulai dari padi, daging, hingga jarum pentul. Bahkan ada yang bersembohyan “Jika bisa impor, ngapain swasembada”.

Kemiskinan metal diatas didukung juga dengan kondisi miskinnya nilai agama dalam masyarakat Indonesia yang nota bene 85% Islam. Padahal dalam agama,  kita diajarkan untuk mempunyai budaya malu, yaitu malu sebagian dari iman. Selain itu, dalam agama diperintahkan untuk bekerja sebagai bentuk ibadah dan meminta-minta adalah sebuah hal yang hina dan ganjarannya adalah berwajah tanpa daging ketika berada di penghisaban kelak.

Konglomerat jalanan sesungguhnya cerminan dari konglomerat dipemerintahan dan konglomerat senayan. mereka yang suka meminta-minta pada konglomerat yang sesungguhnya demi jabatan atau pucuk kepimpinan, sehingga mereka rela jual dan buat apa saja sebagai bentuk balas budi. Tidak saja hutang, bahkan hampir negara ini diserahkan kepada pihak asing dan aseng.

Pajak dan uang rakyat untuk menghidupi mereka tidak menjadi sebuah kepuasan, namun kebuasan. Buas untuk dapat lebih sehingga korupsi, koorporasi, koordinasi dengan berbagai aliansi mereka jalani demi perut dan agar tabungan berisi.

Mungkin tidak semua yang duduk dipemerintahan dan senayan atau yang memegang jabatan begitu. Ah.. tapi yang terlihat demikian. negara ini penuh dengan pesakitan mulai dari yang hidup jalan hingga yang hidup di pemerintahan. Bangga menjadi konglomerat dengan cara apapun.

lantas, apakh kita masih berharap hidup seperti ini terus-menerus?

Hidup tanpa “identitas”, integritas, dan gengsi serta kebanggan diri?

Oh mari rubah semua mental itu, mental koruptif dan pesimist serta komsumtif. Sudah saatnya semua orang berevolusi, bukan saja revolusi mental, tapi revolusi untuk kembali kepada nilai-nilai ilahi dan nilai-nilai ibu pertiwi, yang humanis, penuh semangat juang, percaya diri dan tinggi integritas, berakhlak karimah dan taqwa serta, berdikari.

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s